13 Ags 2012 ... an yang begitu besar hingga aku mampu menyelesaikan studi, terimah ... ikan
skripsi yang berjudul “Kemiskinan Pada Masyarakat.
KEMISKINAN PADA MASYARAKAT AGRARIS (STUDI KASUS PETANI DI DESA KASIWIANG, KECAMATAN SULI, KABUPATEN LUWU)
Poverty on Agrarian Society (Case Study is Farmer at Kasiwiang Village, Suli District, Luwu Regency)
SKRIPSI
MABRUR BACULU E411 07 029
SKRIPSI DIAJUKAN SEBAGAI SALAH SATU SYARAT GUNA MEMPEROLEH DERAJAT KESARJANAAN PADA JURUSAN SOSIOLOGI
JURUSAN SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012 1
KEMISKINAN PADA MASYARAKAT AGRARIS (STUDI KASUS PETANI DI DESA KASIWIANG, KECAMATAN SULI, KABUPATEN LUWU)
Poverty on Agrarian Society (Case Study is Farmer at Kasiwiang Village, Suli District, Luwu Regency)
SKRIPSI
MABRUR BACULU E411 07 029
SKRIPSI DIAJUKAN SEBAGAI SALAH SATU SYARAT GUNA MEMPEROLEH DERAJAT KESARJANAAN PADA JURUSAN SOSIOLOGI
JURUSAN SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012 2
HALAMAN PENGESAHAN
JUDUL
: KEMISKINAN PADA MASYARAKAT AGRARIS (STUDI STUDI KASUS PETANI DI DESA KASIWIANG, KECAMATAN AMATAN SULI, KABUPATEN LUWU)
NAMA
: MABRUR BACULU
NIM
: E 411 07 0029
Telah diperiksa dan disetujui oleh Pembimbing I dan Pembimbing II untuk diajukan pada panitia Ujian Skripsi kripsi Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Makassar, 19 Juli 2012 Menyetujui: Pembimbing I
Pembimbing II
Dr. H. M. Darwis, MA, DPS Nip: 19610709 198601 1 002
Sultan, S.Sos, M.Si Nip: 19691231 200801 2008 1 047
Mengetahui Pimpinan Jurusan Sosiologi FISIP UNHAS
Dr. H. M. Darwis, MA, DPS Nip: 19610709 198601 1 002 3
HALAMAN PENGESAHAN
JUDUL
: KEMISKINAN PADA MASYARAKAT AGRARIS (STUDI STUDI KASUS PETANI DI DESA KASIWIANG, KECAMATAN SULI, KABUPATEN LUWU)
NAMA
: MABRUR BACULU
NIM
: E 411 07 029 0
Telah diperiksa dan disetujui oleh Pembimbing I dan Pembimbing II Setelah dipertahankan di depan panitia Ujian Skripsi pada tanggal ujian dilaksanakan Makassar, 13 Agustus 2012 Menyetujui: Pembimbing I
Pembimbing II
Dr. H. M. Darwis, MA, DPS Nip: 19610709 198601 1 002
Sultan, S.Sos, M.Si Nip: 19691231 200801 2008 1 047
Mengetahui Pimpinan Jurusan Sosiologi FISIP UNHAS
Dr. H. M. Darwis, MA, DPS Nip: 19610709 198601 1 002 4
LEMBAR PENERIMAAN TIM EVALUASI
NAMA
: MABRUR BACULU
NIM
: E 411 07 029 0
JUDUL
: KEMISKINAN PADA MASYARAKAT AGRARIS (STUDI STUDI KASUS PETANI DI DESA KASIWIANG, KECAMATAN SULI, KABUPATEN LUWU)
Skripsi ini telah diuji dan dipertahankan di depan Tim Evaluasi Skripsi Pada Jurusan Sosiologi Fakultas Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Pada Hari : Kamis Tanggal : 9 Agustus 2012 Tempat : Ruang Ujian Jurusan Sosiologi Fisip Unhas
Tim Evaluasi
Ketua
:
Sekretaris :
Anggota
:
Dr. H. M. Darwis, MA, DPS
( ........................... ........................ )
Sultan, S.Sos, M.Si
( ........................... ........................ )
Dr. Rahmat Muhammad Muhammad, M.Si
( ........................... ........................ )
Drs. Andi Sangkuru, M. Si
( ........................... ........................ )
Drs. Hasbi, M.Si
( ........................... ........................ ) 5
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
Yang bertanda tangan di bawah ini :
NAMA
: MABRUR BACULU
NIM
: E411 07 029
JUDUL
: KEMISKINAN PADA MASYARAKAT AGRARIS (STUDI KASUS PETANI DI DESA KASIWIANG, KECAMATAN SULI, KABUPATEN LUWU)
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar
merupakan
hasil
karya
sendiri,
bukan
merupakan
pengambilalihan tulisan atau pemikiran orang lain. Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan skripsi ini hasil karya orang lain, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.
Makassar, 27 Juli 2012 Yang Menyatakan
MABRUR BACULU
6
HALAMAN PERSEMBAHAN
“Dan Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada Ibu Bapakmu dpengan sebaik-baiknya. sebaik Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya duanya sampai berumur lanjut dalam peliharaanmu, maka janganlah sekali-kali sekali kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, Kasihilah mereka berdua, sebagai mana mereka berdua telah mendidik aku sewaktu kecil”. (QS. Al-Israa’ Israa’ : 23 23-24) Orang bijak mengatakan: “ Kasih ibu itu seperti lingkaran, tak berawal dan tak berakhir Kasih ibu itu selalu berputar dan senantiasa meluas Menyentuh setiap orang yang ditemuinya. Melingkupinya seperti kabut pagi, Menghangatkannya seperti mentari siang, Dan menyelimutinya seperti bintang malam” “Itulah seorang Ibu yang telah melahirkan melahirkan dan membesarkan ku dengan penuh kasih sayang yang tiada tara, dan senantiasa mendoakan dan memberikan dukungan yang begitu besar hingga aku mampu menyelesaikan studi, terimah kasih bunda.” Karya ini kupersembahkan kepada: Ibunda Hj. Hikmah Hasrid, Hasrid SE, Ayahanda Drs. Anwar Is Baculu,, Kakakku Israeni Baculu, S.Pt, Isharyadi Baculu, S.Sos, Raja Alam Putra Baculu, S.Pi, dan Eka Prasetya Hati Baculu, S.Pd, yang selalu memberikan doa, motifasi dan dukungan dalam menyelesaikan studi di Universitas Hasanuddin 7
KATA PENGANTAR
Puji Syukur penulis panjatkan atas berkat rahmat dan ridho Allah SWT yang telah memberikan Inspirasi yang tiada batas sehingga Penulis dapat menyusun sebuah karya ilmiah, sungguh maha besar karunia yang telah engkau berikan dan karena dengan den izin-Mu Mu lah penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Kemiskinan “Kemiskinan Pada Masyarakat Agraris (Studi Kasus Petani di Desa Kasiwiang, Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu)”” karya ini ku persembahkan untuk mu “Ayahanda Ayahanda DRS. Anwar Is Baculu dan Ibunda tercinta Hj. Hikmah Hasrid, SE yang telah memberikan penulis do’a restu serta pengorbanannya selama ini hingga penulis dapat menyelesaikan studi dari awal hingga akhir. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Namun keberhasilan berhasilan dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini tidak terlepas dari semua pihak yang senang tiasa ikhlas telah membantu memberikan bimbingan, dukungan, dorongan yang tak pernah henti. Harapan dari penulis agar kiranya skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan andil guna pengembangan lebih lanjut. Atas petunjuk - NYA, skripsi ini dapat selesai, oleh karena itu dengan segala hormat penulis menyampaikan terima kasih kepada:
8
1. Bapak Prof. Dr. dr Idrus A Paturusi, Sp B .Sp BO selaku Rektor Universitas Hasanuddin Makassar. 2. Bapak Prof. Dr. H Hamka Naping, MA. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Makasaar. 3. Bapak Dr. H. M. Darwis, MA, DPS selaku Pembimbing I yang telah memberikan tuntunan dan nasehat demi kesempurnaan skripsi ini. 4. Bapak Sultan, S.Sos, M. Si selaku Pembimbing II, yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis hingga terselesaikannya skripsi ini. 5. Bapak Dr. H. M. Darwis, MA. DPS, Selaku Ketua Jurusan
Sosiologi serta Bapak Dr. Rahmat Muhammad, M.Si, Selaku Sekretaris Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Makasaar. 6. Segenap Dosen Sosiologi (Pak Hasbi, Pak Iqbal, Pak Sangkuru dan Dosen yang lain) serta Staf Jurusan Sosiologi (Pak Yan, Pak Asmudir, Pak Haliq, dan Dg. Rahmang) FISIP UNHAS yang telah memberi bantuan dan arah tentang hasanah ilmu yang bermanfaat untuk sarana berpijak guna kelancaran skripsi. 7. Buat Saudaraku (Israeni Baculu, S.Pt, Isharyadi Baculu, S.Sos, Raja Alam Putra Baculu, S.Pi dan Eka Prasetia Hati Baculu, S.Pd) yang telah memberikan dorongan serta bantuan baik moril maupun spiritual.
9
8. Terima kasih banyak terkhusus buat IRASANTI atas semangat dan bantuannya dalam menyelesaikan skripsi ini. 9. Saudara-saudaraku di C1/9: Abu (Sosiologi 07), Robby (Adm 07), Iaa (Politik 07), Umar (Adm 07), Darwis (Adm 07), Rudy (Pemerintahan 07), Tian (Adm 07), Rimal (Adm 07), Dewi (Antropologi 07), Budi (Adm 07), Wiwin (Sosiologi 07), Ridwan (Pemerintahan 07), Bram (Hukum 10), dan Yayat
(Politik
10).
Terima
kasih
atas
kebersamaan
serta
dukungannya selama ini. 10. Adik – Adikku (Alliah, Ana, Nona, Ijcha, Aulia, dkk) Terima kasih telah memberikan semangat dan dukungan selama ini. 11. Buat teman-teman Sosiologi 2007. Ustas Ronald, Unyil, Makka, Rudy, Rahmat, Imran, Fauzan, Zul, Cua, Ayyub, Mas’ kurniawan, Cullank, Bahar, Husni, Nunu, Ade, Naya, Wina, Ani, Cindy, Anti, Acid, Iin, Murni, Rhia, Mayke, dan semua yang tak sempat penulis cantumkan dalam selembaran ini, maaf teman. Serta kawan-kawan
2007 FISIP UNHAS yang saat ini sedang berjuang menyelesaikan tugas akhirnya. 12. Teman-teman KKN UNHAS Gelombang 80. Iccank, Adi, Anita dan Tuti, terima kasih atas kebersamaan, kekonyolan dan kegilaan selama KKN, serta seluruh warga di Desa Pasimarannu Kecamatan Sinjai Timur Kabupaten Sinjai, terutama buat Pak Desa
10
bersama Ibu Desa, terima kasih atas segala bantuan dan kerja samanya. 13. Teman-teman di ORGANDA PPMIB MAKASSAR (Perkumpulan Pelajar Mahasiswa Indonesia Kab.Buol) Terima kasih atas dukungannya selama ini. 14. Kanda-kanda dan adik-adik Sosiologi yang terhimpun dalam keluarga Mahasiswa Sosiologi (KEMASOS) FISIP UNHAS terima kasih telah memberikan penulis pengalaman tentang berorganisasi selama di kampus.
Dalam penyusunan skripsi ini penulis telah berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai kesempurnaan. Namun penulis menyadari dalam penyusunan skripsi ini masih banyak kekurangan, semua itu dikarenakan karena keterbatasan dan kemampuan penulis. Oleh karena itu penulis akan menerima dengan hati terbuka atas segala kritik dan saran dari berbagai pihak demi kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini memiliki guna dan manfaat bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan. Makassar, 27 Juli 2012
Penulis
MABRUR BACULU 11
ABSTRAK
MABRUR BACULU, NIM E411 07 029, Jurusan Sosiologi Pada Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, dengan judul skripsi “KEMISKINAN PADA MASYARAKAT AGRARIS (STUDI KASUS PETANI DI DESA KASIWIANG, KECAMATAN SULI, KABUPATEN LUWU)” dan dibimbing oleh H. M. Darwis, dan Sultan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya kemiskinan pada petani sawah dan untuk mengetahui faktor penghambat petani sawah dalam mengatasi kemiskinan. Kegunaan penelitian ini diharapkan agar dapat memberi sumbangsih kepada Desa Kasiwiang, supaya pemerintah daerah memperhatikan petani sawah yang ada di desa tersebut. Berdasarkan hal itu maka dibahas didalam rumusan masalah yang meliputi apa faktor penyebab terjadinya kemiskinan pada petani sawah di Desa Kasiwiang, Kec. Suli, Kab. Luwu, dan apa yang menjadi faktor penghambat petani sawah di Desa Kasiwiang, Kec.Suli, Kab.Luwu dalam mengatasi kemiskinan. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan dasar penelitian yaitu study kasus dan sumber data primer yaitu melalui wawancara, observasi dan teknik lain. Penelitian yang saya gunakan ialah dengan metode kualitatif, adapun lokasi penelitian di Desa Kasiwiang, Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu. Penunjukan didasarkan karena pada kecamatan ini banyak petani sawah yang cenderung masih mengalami kemiskinan. Dalam penelitian ini, desain yang digunakan adalah desain studi kasus tentang Kemiskinan Pada Masyarakat Agraris di Desa Kasiwiang, dan tipe penelitian yang digunakan yaitu secara deskriktif. Hasil penelitian ini yang melandasi penyebab kemiskinan pada petani sawah adalah meningkatnya faktor kebutuhan hidup keluarga yang tidak seimbang dengan penghasilan mereka, sehingga mempengaruhi pola kehidupan para petani sawah, hal ini dapat dilihat dari penghasilan mereka dan pola hidup para petani. Dan yang menjadi penghambat para petani sawah dalam mengatasi kemiskinan ialah kurangnya perhatian pemerintah setempat dalam memberikan solusi atau bantuan bagi para petani untuk meningkatkan hasil panen mereka dan juga para petani dalam teknik pengelolaan sawah.
12
ABSTRACT MABRUR BACULU, NIM E411 07 029, Department of Sociology in the Faculty of Social and Political Sciences University of Hasanuddin, thesis titled "POVERTY on AGRARIAN SOCIETY (CASE STUDY is FARMER at KASIWIANG VILLAGE, SULI DISTRICT, LUWU REGENCY)" and guided by H. M. Darwis, and Sultan. This research to determine the root causes of poverty in the farmers' fields and to determine the limiting factor in the rice farmers to overcome poverty. Usefulness of this research is expected to contribute to Kasiwiang Village, Suli District, Luwu Regency, so that local governments pay attention to rice farmers in the village. On this basis it is discussed in the formulation of the problem that includes what the root causes of poverty in rice farmers in Kasiwiang Village, Suli District, Luwu Regency, and what is the limiting factor rice farmers in Kasiwiang Village, Suli District, Luwu Regency in addressing poverty. To achieve these objectives, the researchers used a qualitative approach to basic research and case studies are the primary data source is through interviews, observation and other techniques. The research that I use is a qualitative method, while the study site in the Village Kasiwiang, District Suli, Luwu. Designation is based on the district because of this, many farmers tend rice fields are still experiencing poverty. In this study, the design used is the design of a case study on Poverty in Agrarian Society at Kasiwiang Village, Suli District, Luwu Regency and the type of research used in deskriktif. The results of this study the underlying causes of poverty in the farmers' fields is the increasing needs of family life factors are out of balance with their income, thus affecting patterns of rice farmers, this can be seen from their income and lifestyle farmers. And that is the bottleneck of rice farmers in addressing poverty is the lack of attention to local government in providing solutions or assistance to farmers to increase their crop yields and farmers in the rice field management techniques, although they are referring to modern direction by using a tractor, but a tool only to work the fields.
13
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL DEPAN ................................................................. i HALAMAN JUDUL……………................................................................. ii HALAMAN PENGESAHAN …………………….………………………….. iii LEMBAR PENERIMAAN TIM EVALUASI…………………...…………... v LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI…………………...……. vi HALAMAN PERSEMBAHAN ……………………………………………... vii KATA PENGANTAR ............................................................................. viii ABSTRAK ……………………………………………………………………. xii ABSTRACT …………………………………………………………………. xiii DAFTAR ISI .......................................................................................... xiv DAFTAR TABEL ................................................................................... xvii DAFTAR GAMBAR……………………………………………………….... xviii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah............................................................... 1 B. Rumusan Masalah........................................................................ 5 C. Tujuan Penelitian.......................................................................... 5 D. Manfaat Penelitian........................................................................ 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Kemiskinan dan Kemiskinan Petani .......................... 7 B. Defenisi Masyarakat Agraris……………………………………..
18
C. Defenisi Petani …......................................................................... 23 D. Ukuran Kemiskinan …………………............................................. 29 E. Penyebab Kemiskinan ….............................................................. 36 14
F. Penghambat dan Penanggulangan Kemiskinan ......................... 40 G. Kerangka Konseptual.................................................................... 44
BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian......................................................... 51 1. Waktu Penelitian…………………………………………………. 51 2. Lokasi Penelitian…………………………………………………. 51 B. Tipe dan Dasar Penelitian............................................................. 51 1. Tipe Penelitian……………………………………………………. 51 2. Dasar Penelitian………………………………………………….. 52 C. Sumber Data................................................................................. 52 1. Data Primer……………………………………………………….. 52 2. Data Sekunder………………………………………………….... 52 D. Teknik Pengumpulan Data............................................................ 53 1. Observasi/Pengamatan…………………………………………. 53 2. Wawancara Mendalam (Dept Interview)………………………. 53 3. Dokumentasi……………………………………………………… 54 E. Teknik Pemilihan Informan........................................................... 54 F. Teknik Analisis Data..................................................................... 55 1. Reduksi Data……………………………………………………... 55 2. Penyajian Data…………………………………………………... 55 3. Kesimpulan……………………………………………………….. 55
BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN A. Letak Geografis............................................................................. 56 a. Letak geografis dan Batas Administrasi..................................56 b. Topografi dan Iklim ................................................................ 57 c. Luas Wilayah Menurut Penggunaan Tanah........................... 59 B. Kondisi Demografi......................................................................... 60 a. Kependudukan......................................................................... 61 b. Pendidikan............................................................................... 62 c. Pemerintahan.......................................................................... 64 d. Sosial....................................................................................... 64 e. Sarana dan Prasarana............................................................. 68 15
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Identitas Informan.......................................................................... 70 Profil informan......................................................................... 71 B. Faktor Penyebab Terjadinya Kemiskinan...................................... 74 1. Penghasilan yang Rendah...................................................... 75 2. Pola Hidup............................................................................... 78 C. Faktor Penghambat Petani Sawah Dalam Mengatasi Kemiskinan………………………………………………………....... 84 1. Bantuan Pemerintah Belum Maksimal.................................... 85 2. Teknik Pengelolaan Sawah.................................................... 88
BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan................................................................................... 91 B. Saran............................................................................................ 94 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 95 LAMPIRAN CURRICULUM VITAE
16
DAFTAR TABEL Tabel I. 1. Rata-Rata Curah Hujan dan Tipe Bulanan Oldeman........... 58 Tabel I. 2. Luas wilayah menurut penggunaan tanah………………… 59 Tabel II.1. Keadaan Penduduk Desa Kasiwiang Tahun 2010............... 61 Tabel II.2. Tingkat Pendidikan di Desa Kasiwiang Tahun 2010............ 63 Tabel II.3. Luas Tanaman Pangan di Desa Kasiwiang.......................... 66 Tabel II.4. Luas dan Hasil Perkebunan menurut jenis komoditas…… 67 Tabel II.5. Jenis Populasi Ternak di Desa Kasiwiang…………………. 68
17
DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Skema Kerangka Koseptual................................................. 50
18
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Masyarakat desa dalam kehidupan sehari-harinya biasanya lebih menggantungkan hidupnya pada alam. Alam merupakan segalanya bagi penduduk desa, karena alam memberikan apa yang dibutuhkan manusia bagi kehidupannya. Mereka mengolah alam dengan peralatan yang sederhana untuk dipetik hasilnya guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Alam juga digunakan sebagai tempat tinggal. Sehingga masyarakat pedesaan sering diidentikkan sebagai masyarakat agraris, yaitu masyarakat yang kegiatan ekonominya terpusat pada pertanian. Besarnya peranan pertanian di Indonesia memberikan motivasi pedesaan untuk memiliki lahan pertanian yang dapat dijadikan sebagai sumber produksi, oleh karena itu mereka berupaya dengan berbagai cara untuk memenuhi lahan pertanian baik yang ada diwilayah tempat tinggalnya maupun diluar desanya. Dengan dimilikinya lahan pertanian tersebut, mereka akan membiayai kebutuhan hidup bagi keluarganya. Sebagian dari mereka biasanya hanya bekerja disektor pertanian karena disesuaikan dengan latar belakang pendidikan yang dimiliki. 19
Masyarakat agraris yang kehidupannya tergantung pada tanah sebagai sarana produksi, pada dasarnya belum melahirkan lapangan kerja yang besar variasinya. Hampir semua keahlian yang diperlukan untuk mengolah tanah sebagai sarana produksi, dimiliki oleh seluruh warga.
“Pembangunan di sektor pertanian, tahun demi tahun, menunjukkan hasil yang mengembirakan. Bahkan sangat, memuaskan dilihat dari segi produktifitasnya. Hal itu ditandai oleh berhasilnya bangsa Indonesia dalam swasembada pangan. Namun demikian, tampaknya harus kita akui bahwa hal itu bukan berarti masyarakat petani kita hidup telah berkecukupan. Dalam kenyataanya, terutama yang termasuk petani garam, buruh tani, dan petani penyewa atau penggarap yang garapannya kurang dari setengah hektar, tidak jarang mengalami kesulitan” (Sunarti,1990:2). Luasnya lahan persawahan di Indonesia ternyata tak juga mampu membuat taraf hidup petani meningkat. Masih banyak petani sawah yang mengalami kesulitan dalam menjalani hidup, dalam hal ini adalah kesejahteraan ekonomi. Tak jarang kita dapatkan petani sawah di desa-desa berada dalam garis kemiskinan. Hal ini disebabkan karena meningkatnya berbagai kebutuhan hidup, baik kebutuhan sekunder maupun kebutuhan primer dan juga karena terjadinya krisis ekonomi yang tak kunjung terselesaikan, inilah yang membuat para petani miskin semakin kewalahan dalam memperbaiki perekonomian keluarganya. Sektor ekonomi pedesaan akan lebih meningkat atau mengalami perubahan, apabila pertumbuhannya bersandarkan kepada sumber alam yang ada, atau pelayanan jasa yang dapat 20
diberikan oleh anggota masyarakat desa yang bersangkutan. Salah satu yang dihadapi manusia dan aplikasi permasalahannya dapat melibatkan keseluruhan aspek kehidupan manusia, tetapi seringkali tidak
disadari
kehadirannya
adalah
masalah
kemiskinan.
Kemiskinan yang dialami sebagian besar Negara berkembang terletak pada apa yang disebut dengan perangkap kemiskinan. Kemiskinan merupakan suatu masalah yang timbul akibat dari kekurangan dalam diri manusia untuk kelompok sosial, yang bersumber dari faktor ekonomi, sosial-psiologis dan kebudayaan setiap
masyarakat,
norma
yang
bersangkut
paut
dengan
kesejahteraan kebendaan, kesehatan, serta penyesuaian diri individu atau kelompok sosial. Salah satu masalah sosial yang timbul dari sumber tersebut di atas adalah problematik kemiskinan. Kemiskinan diartikan sebagai suatu keadaan di mana seseorang tidak sanggup melihat dirinya sesuai dengan taraf hidup kehidupan kelompok dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental dan fisiknya dalam kelompok. Kemiskinan merupakan problematika yang sifatnya multidimensional, karena kemiskinan tidak hanya melibatkan faktor ekonomi akan tetapi juga akan terkait dengan aspek sosial budaya dan struktural (politik). Dilihat dari konsep kemiskinan sangat berkaitan dengan sumber daya manusia, dimana kemiskinan itu muncul karena SDM yang tidak berkualitas, peningkatan SDM mengadung upaya 21
menghapuskan
kemiskinan,
oleh
karena
itu
di
dalam
pengembangan SDM salah satu program yang harus dilakukan adalah mengurangi kemiskinan indikatornya adalah pendidikan, keterampilan dan pekerjaan.
“Secara lebih spesifik samonte menjabarkan sasaran pembangunan desa integrative sebagai berikut: meningkatkan produktivitas ekonomi dengan titik berat pada peningkatan produktifitas pertanian. Menyediakan lapangan kerja yang lebih besar. Mendorong terwujudnya distribusi pendapatan yang lebih adil. Menyediakan sistem yang lebih efektif dalam pemberian layanan sosial termasuk pendidikan, kesehatan, perumahan, dan perangkat lain mewujudkan kesejahteraan sosial. Memperbesar tingkat partisipasi masyarakat desa dalam pembuatan keputusan, khususnya berkenaan dengan pembangunan local” (Wresniwiro, 2004 : 9). Kemiskinan merupakan masalah sosial yang senantiasa hadir
ditengah
masyarakat
berkembang.
Dalam
konteks
masyarakat Indonesia, masalah kemiskinan juga merupakan sebuah masalah sosial yang senantiasa relevan untuk dikaji secara terus menerus. Masalah ketenaga kerjaan di pedesaan sering menemui kesulitan karena kerumitannya, pekerja di pedesaan umumnya melakukan jenis pekerjaan lebih dari satu sehingga tidak dapat dipisahkan secara tegas, sebagai contoh: seseorang yang bekerja sebagai petani, juga bekerja sebagai tukang, kuli bangunan, dan pedagang. Desakan ini diakibatkan karena faktor kemiskinan.
22
Dengan fenomena tersebut, maka sangat penting kiranya agar kita membahas tentang Kemiskinan pada Masyarakat Agraris, karena fenomena kemiskinan terhadap kehidupan masyarakat agraris telah menjadi masalah sosial yang belum terselesaikan hingga saat ini.
B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis menguraikan rumusan masalah dibawa ini: 1. Apa faktor penyebab terjadinya kemiskinan pada petani sawah di Desa Kasiwiang, Kec.Suli, Kab.Luwu ? 2. Apa yang menjadi faktor penghambat petani sawah di Desa Kasiwiang, Kec.Suli, Kab.Luwu dalam mengatasi kemiskinan ?
C. Tujuan Penelitian Berdasarkan pada rumusan masalah masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan: 1. Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya kemiskinan pada petani sawah di Desa Kasiwiang, Kec.Suli, Kab.Luwu. 2. Untuk mengetahui faktor penghambat petani sawah di Desa Kasiwiang, Kec.Suli, Kab.Luwu dalam mengatasi kemiskinan.
23
D. Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian yang penulis lakukan adalah sebagai berikut : 1. Dengan
adanya
Masyarakat
hasil
Agraris
penelitian
(Kasus
di
tentang Desa
Kemiskinan
Kasiwiang,
pada
Kec.Suli,
Kab.Luwu), maka hasil penelitian ini diharapkan agar dapat memberi sumbangsih kepada petani miskin supaya mampu mengatasi problematika kemiskinan. 2. Hasil
penelitian
ini
diharapkan
pula
agar
dapat
memberi
sumbangsih kepada Desa Kasiwiang, Kec.Suli, Kab.Luwu supaya pemerintah daerah memperhatikan petani sawah yang ada di desa tersebut. 3. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberi sumbangan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi mahasiswa jurusan sosiologi maupun pembaca lainnya.
24
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Kemiskinan dan Kemiskinan Petani Kemiskinan merupakan masalah sosial yang senantiasa hadir
ditengah
masyarakat
khususnya
di
negara-negara
berkembang dalam konteks masyarakat Indonesia, masalah kemiskinan juga merupakan masalah sosial yang senantiasa relevan untuk terus dikaji. Kemiskinan adalah situasi serba kekurangan yang terjadi bukan karena dikehendaki miskin, melainkan karena tidak dapat dihindari dengan kekuatan yang ada pada-Nya. Kemiskinan antara lain oleh sikap dan tingkah laku yang menerima keadaan yang seakan-akan tidak dapat diubah, yang tercermin dari dalam lemahnya kemauan untuk maju, rendahnya kualitas sumber daya manusia, lemahnya nilai tukar hasil produksi, rendahnya pendapatan, dan terbatasnya kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan (Anonim 1994). Masyarakat miskin adalah mereka yang serba kurang mampu dan terbelit di dalam lingkaran ketidak berdayaan, rendahnya pendapatan mengakibatkan rendahnya pendidikan dan kesehatan, sehingga mempengaruhi produktifitas. Masyarakat miskin umumnya lemah dalam kemampuan berusaha dan terbatas
25
aksesnya pada kegiatan ekonomi sehingga semakin tertinggal jauh dari masyarakat lainnya yang mempunyai potensi lebih tinggi. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata miskin diartikan sebagai tidak berharta benda, serta kekurangan (berpenghasilan rendah).
“Menurut suparlan bahwa kemiskinan adalah suatu standar hidup yang rendah yaitu: adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang yang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat bersangkutan. Standar hidup yang rendah ini secara langsung nampak mempengaruhi terhadap tingkat kesehatan, kehidupan moral, dan rasa harga diri dari mereka yang tergolong miskin” (Juwanita,2004;13). •
Suparlan mendefenisikan penduduk miskin antara lain :
1. Konsep kemiskinan terkait dengan kemampuan seseorang/ rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan dasar baik untuk makanan maupun non makanan.
2. Seseorang/rumah tangga dikatakan miskin bila kehidupannya dalam kondisi serba kekurangan, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya.
3. Batas kebutuhan dasar minimal dinyatakan melalui ukuran garis kemiskinan yang disertakan dengan jumlah rupiah yang dibutuhkan. Secara kekurangan
ekonomi sumber
kemiskinan daya
yang
dapat
diartikan
dapat
digunakan
sebagai untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jika diartikan dengan pendapatan dan kebutuhan dasar maka kemiskinan dapat diukur 26
secara langsung, yaitu ketika pendapatan masyarakat tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar minimum maka orang ini dapat dikatakan miskin. Dalam hal ini kemiskinan ditentukan oleh keadaan tidak tercapainya kebutuhan dasar sesuai dengan kebutuhan saat ini. Selain itu oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) digunakan indikator untuk keluarga sejahtera yaitu:
1. Pada umumnya anggota keluarga makan 2 kali sehari. 2. Anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda yakni untuk di rumah, tempat pekerjaan, tempat belajar (sekolah), dan bepergian.
3. Rumah yang ditempati mempunyai atap, lantai dan dinding yang baik.
4. Bila ada keluarga yang sakit di bawa ke sarana kesehatan. 5. Bila pasangan usia subur ingin berkeluarga berencana (KB) pergi ke sarana pelayanan kontrasepsi.
6. Semua anak umur 7-15 tahun dalam keluarga bersekolah. Dan apabila indikator tersebut di atas tidak dipenuhi oleh sebuah keluarga. Maka oleh BKKBN dikatakan keluarga pra sejahtera (pedoman pendataan BKKBN).
27
Sejalan dengan Emil salim (ALA, 1981:8) dikutip dalam (Sumrah, 2008: 28) bahwa orang miskin memiliki 5 ciri-ciri yakni meliputi antara lain : 1. Mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan pada umumnya tidak memiliki faktor produksi sendiri, seperti tanah yang tidak cukup, modal ataupun keterampilan, faktor produksi yang dimiliki
umumnya
sedikit
sehingga
kemampuan
untuk
memperoleh pendapatan menjadi sangat terbatas. 2. Mereka pada umumnya tidak mempunyai kemungkinan untuk memperoleh
asset
produksi
dengan
kekuatan
sendiri,
pendapatan yang diperolehnya tidak cukup untuk memperoleh tanah garapan ataupun modal usaha. 3. Tingkat pendidikan pada umumnya rendah. Tidak sampai tamat sekolah dasar waktu mereka umumnya habis tersisa untuk mencari nafkah sehingga tidak ada lagi waktu untuk belajar, demikian
pun
menyelesaikan
para
anak-anak
sekolahnya
oleh
mereka karena
tidak
dapat
mereka
harus
membantu orang tuanya mencari tambahan penghasilan. 4. Banyak diantara mereka tidak mempunyai tanah. Kalaupun ada hanya relatif kecil, pada umumnya mereka menjadi buruh tani atau pekerja kasar di luar pertanian, karena pertanian bekerja atas dasar musiman, maka kesinambungan kerja menjadi kurang terjamin. 28
5. Banyak diantara mereka yang hidup di kota masih berusia muda dan tidak mempunyai keterampilan atau pendidikan, sedangkan kota tidak siap menampung gerak urbanisasi dari desa. Pembangunan di wilayah pedesaan bermaksud untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk wilayah pedesaan yang menitik beratkan pada pembangunan pertanian yang dilakukan oleh berbagai departemen. Misalnya departemen transmigrasi yang dibantu oleh departemen lain membentuk wilayah pedesaan baru, yaitu wilayah transmigrasi. Departemen
pertanian
menyelenggarakan
wilayah
pedesaan baru dengan pembentuk Pertanian Inti Rakyat (PIR). Departemen dalam negeri mempunyai direktoral jendral yang khusus melaksanakan pembangunan di desa yang telah ada, dan menyelenggarakan pemukiman kembali. Bank dunia menerangkan bahwa
pembangunan
desa
sebagai
suatu
strategi
untuk
memajukan kehidupan sosial dan kehidupan ekonomi bagi kelompok tertentu, yaitu penduduk yang miskin di pedesaan.
“Dalam tulisan tentang kemiskinan: gejala dan akar poli (1993) diuraikan secara mendalam tentang apa dan bagaimana cara mengatasi masalah kemiskinan, yang pertama-tama menampakkan dirinya sendiri melalui gejala-gejala yang belum kelihatan dan terukur, seperti rendahnya pendapatan perkapita, tabungan, modal, produktifitas, tingkat kematian balita dan penduduk”. (Jefris, 2000: 26)
29
Survey
sosial
ekonomi
nasional
(SUSENAS)
1993,
memberikan gambaran bahwa pendapatan keluarga dalam jumlah real rupiah dapat diukur dengan menggunakan skala dari standar SUSENAS tersebut misalnya dengan asumsi jumlah anggota rumah tangga sebanyak 5 jiwa, terdiri dari 3 orang anak tambah suami dan istri dengan menggunakan tolak ukur kemiskinan di daerah pedesaan secara nasional Rp18.244 perkapita perbulan, maka dapat dilakukan penggolongan pendapatan rumah tangga rendah, sedang, dan tinggi di daerah pedesaan. Tiga jenis indikator kemiskinan yang digunakan oleh BPS adalah kemiskinan absolut termasuk timbulnya kemiskinan. Indeks iuran kemiskinan dan indeks kesulitan kemiskinan. kemiskinan absolut mengukur jumlah dari penduduk miskin. Sedangkan timbulnya kemiskinan atau rasio menghitung kepala ditunjukan sebagai persentase kemiskinan pada total penduduk. Jurang kemiskinan di pihak lain. Mengukur rata-rata iuran pemisah antara pendapatan kaum miskin dengan garis kemiskinan, sedangkan indeks kesulitan adalah jurang kemiskinan yang sensitif di distribusikan. Kemiskinan absolut adalah kondisi di bawah pendapatan yang
menjamin
perlindungan.
kebutuhan
Pengukuran
dasar
pangan
kemiskinan
absolut
pakaian
dan
yang
baik
merupakan pengukuran yang dapat benar-benar mewakili tingkat 30
kemiskinan itu sendiri, tambahan pula dari pandangan kebijakan pengukuran kemiskinan harus berpihak kepada yang benar-benar miskin. Arti kemiskinan manusia secara umum adalah “kurangnya kemampuan esensial manusia terutama dalam hal “ke-melek-hurufan” (kemampuan membaca;literaci) serta tingkat kesehatan dan gizi”. Selain itu diartikan pula sebagai kurangnya pendapatan sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan konsumsi minimum. Definisi atau pengertian kemiskinan perlu pula dibedakan antara Kemiskinan Absolut (Absolute Poverty), dan Kemiskinan Relatif (Relative Poverty) maupun Kemiskinan Struktural (Struktural Poverty). Dalam
blog;
Julissar
An-naf,
ia
mengatakan
bahwa
kemiskinan di Indonesia meliputi kemiskinan yang bersifat relatif (Relative Poverty) dan yang bersifat absolut (Absolute Poverty). Kemiskinan Absolut diindikasikan dengan suatu tingkat kemiskinan yang di bawah itu kebutuhan minimum tidak dapat dipenuhi untuk bertahan hidup. Sedangkan Kemiskinan Relatif adalah suatu tingkat kemiskinan dalam hubungannya dengan suatu rasio, dan Garis Kemiskinan Absolut atau proporsi distribusi pendapatan (kesejahteraan) yang timpang (tidak merata).
31
Kedua bentuk Kemiskinan Absolut dan Kemiskinan Relatif perlu penanganan yang spesifik dalam proses pengetasannya. Pengentasan Kemiskinan Absolut ditempuh dengan penedekatanpendekatan yang bersifat rehabilitasi sosial (social rehabilitation, emergency,
cash
programme)
dan
pemberdayaan
ekonomi
(economic empowerment). Sedangkan pengentasan Kemiskinan Relatif ditempuh dengan usaha-usaha memperbaiki distribusi pendapatan masyarakat (income distribution). Upaya-upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia masih berfokus
pada
pengentasan
Kemiskinan
Absolut,
misalnya
Program Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan (Gerdu Taskin) dan Jaringan Pengaman Sosial (JPS). Dalam prakteknya pendekatan rehabilitasi dan pemberdayaan yang terakhir di atas banyak menghadapi kendala, baik kendala pendanaan, teknis maupun non-teknis. Sayogyo di dalam Sumardi & Evers (1994 : 21) misalnya, memberi batasan, seseorang disebut miskin bila pendapatannya setara atau kurang dari 320 kg beras per tahun per orang untuk di pedesaan dan 480 kg beras per tahun per orang untuk di perkotaan. Papanek (Ibid) menggunakan ukuran kalori. Kalori yang dibutuhkan seseorang untuk hidup per hari adalah 1.821 kalori atau setara dengan sekitar 0,88 kg beras bila dikaitkan dengan dengan ukuran yang digunakan Sayogyo. Apa yang dikemukakan di atas 32
baru merupakan kebutuhan makanan, belum termasuk kebutuhan lain-lain seperti sandang, pemukiman, pendidikan, dan lain-lain. Cara yang lebih akurat untuk menetapkan garis kemiskinan adalah dengan menghitung Kebutuhan Hidup Minimal (KHM) tiap rumah tangga.
“Kebutuhan hidup dalam hal ini adalah kebutuhan pokok (basic needs) yang meliputi makanan, pakaian, perumahan, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan partisipasi masyarakat. Ukuran ini akan berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lainnya serta sesuai jenis-jenis kebutuhan pokoknya”. (Sumardi & Evers: VI, 22). Versi lain dalam mendefinisikan Kemiskinan Absolute adalah: “tingkat pendapatan minimum yang cukup untuk memenuhi Kebutuhan Fisik Minimum (KFM) terhadap makanan, pakaian dan perumahan untuk menjamin kelangsungan hidup”. Angka KFM ini berbeda-beda dari satu negara ke negara lainnya, bahkan dari satu daerah ke daerah lainnya serta bisa berubah-ubah dari waktu ke waktu. PBB pernah menetapkan “Garis Kemiskinan Internasional” sebesar US $ 125,- per orang per tahun atas dasar harga konstan tahun 1980. Itu berarti seseorang yang konsumsinya kurang dari US $ 125,- per tahun dapat digolongkan berada di bawah Garis Kemiskinan
atau
berada
dalam
Kemiskinan
Absolut
(Todaro,1995:31-32). 33
Secara sederhana Kemiskinan Relatif dapat dilihat dengan memperbandingkan proporsi atau persentase penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan Absolut dengan jumlah penduduk keseluruhan. Untuk lebih memperoleh gambaran yang sesungguhnya tentang tingkat kemiskinan relatif atau pemerataan kesejahteraan ekonomi perlu diketahui distribusi pendapatan. Menurut Hady prayitno (1987) bahwa kemiskinan relatif dinyatakan dalam beberapa persen dari pendapatan nasional yang diterima oleh beberapa kelompok
penduduk
dengan kelas
pendapatan tertentu dibandingkan dengan porsi pendapatan nasional
diterima
oleh
kelompok
penduduk
dengan
kelas
pendapatan lainnya. Dari uraian di atas jelas terlihat bahwa usaha dalam pemenuhan kebutuhan dasar yang sebaik-baiknya bagi keluarga dan masyarakat akan tercipta melalui suatu tata kehidupan dan kehidupan sosial, materi maupun spiritual yang diikuti oleh rasa keselamatan, kesusilaan, ketentraman lahir batin yang tak lain menjelaskan hubungan yang erat dengan aspek sosial ekonomi masyarakat, yang merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan
kesejahteraan
mereka
selaras
dengan
kepentingannya, antara lain meliputi peningkatan pendapatan rumah tangga, pengetahuan, atau memberikan kontribusi terhadap
34
pemecahan masalah-masalah sosial dengan peningkatan kualitas hidup individu, kelompok dan masyarakat. Pendekatan kebutuhan dasar merupakan suatu acuan dalam pembangunan alternative. Friedmen (1992) dalam Suyanto Bagong (1996: 8) mendefenisikan kebutuhan dasar manusia yang meliputi : 1. Terpenuhinya
kebutuhan
minimum
rumah
tangga
bagi
konsumsi pribadi seperti : makanan, minuman, dan perumahan. 2. Tersedianya pelayanan dasar untuk konsumsi bersama kolektif dalam komunitas seperti: air bersih, penerangan, transportasi, fasilitas kesehatan dan fasilitas pendidikan. 3. Kesempatan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang terkait dengan diri mereka sendiri. 4. Kepuasan atas tingkat kebutuhan dasar yang mutlak dalam kerangka hak asasi manusia secara lebih luas. 5. Adanya kesempatan kerja sebagai suatu cara dan tujuan dalam suatu strategi kebutuhan dasar. Fenomena kemiskinan bukan hanya terbatas kepada kurangnya keuangan, melainkan melebar kepada kurangnya kreatifitas, inovasi kurangnya kesempatan untuk bersosialisasi dengan berbagai potensi dan sumber daya yang ada, atau secara khusus
persoalan
itu
telah
melingkar
diantara
lemahnya
penyeimbangan potensi diri dan tertutupnya potensi diri untuk 35
berkembang di masyarakat, semua itu akan berlangsung apabila proses marjinalisasi dan pihak yang berkuasa berlangsung pula. Yang melatar belakangi kemiskinan menurut Suyanto Bagong dibedakan atas dua kategori antara lain : a. Kemiskinan alamiah Kemiskinan alamiah adalah kemiskinan yang timbul sebagai akibat sumber-sumber daya yang kurang dan atau karena tingkat perkembangan teknologi yang sangat rendah. b. Kemiskinan buatan Kemiskinan buatan diartikan sebagai kemiskinan yang terjadi karena struktur sosial yang membuat anggota atau kelompok masyarakat tidak menguasai sarana ekonomi dan fasilitas secara merata, dengan demikian sebagian anggota masyarakat masih tetap miskin walaupun sebenarnya jumlah produksi yang dihasilkan oleh masyarakat tersebut bila dibagi rata dapat membebaskan semua anggota masyarakat dari kemiskinan.
B. Defenisi Masyarakat Agraris Berbicara tentang masalah primitif, maka kita akan berbicara tentang kehidupan masyarakat desa. Begitu pula, kehidupan desa selalu dikaitkan dengan kehidupan agraris, yaitu kelompok masyarakat yang mayoritas bermata pencaharian di bidang 36
pertanian. Desa sebagai penghasil pangan utama, menjadi tumpuan bagi masyarakat kota. Menurut Bintarto, desa mempunyai unsur-unsur sebagai berikut : •
Daerah, dalam arti tanah-tanah yang produktif dan yang tidak, serta penggunaannya.
•
Penduduk,
meliputi
jumlah,
pertambahan,
kepadatan
persebaran dan mata pencaharian penduduk setempat. •
Tata kehidupan, dalam hal ini pola tata pergaulan dan ikatanikatan pergaulan. Maju mundurnya sebuah desa bergantung dari tiga unsur ini
yang dalam kenyataannya ditentukan oleh faktor usaha manusia (human efforts) dan tata geografi (geographical setting). Adapun menurut Paul H. Landis, desa adalah daerah yang penduduknya kurang dari 2.500 jiwa. Dengan ciri-ciri sebagai berikut : a. Mempunyai pergaulan yang saling mengenal antara beberapa ribu jiwa. b. Memiliki perhatian dan perasaan yang sama dan kuat tentang kesukaan terhadap adat kebiasaan. c.
Memiliki cara berusaha (dalam hal ekonomi), yaitu agraris pada umumnya, dan sangat dipengaruhi oleh keadaan alam, seperti :
37
iklim, kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris bersifat sambilan. Jadi
yang
dimaksud
masyarakat
pedesaan
adalah
sekelompok orang yang mendiami suatu wilayah tertentu yang penghuninya mempunyai perasaan yang sama terhadap adat kebiasaan yang ada, serta menunjukkan adanya kekeluargaan di dalam kelompok mereka, seperti gotong royong dan tolongmenolong. 1. Ciri-Ciri Masyarakat Agraris Masyarakat pedesaan ditandai dengan pemilikan ikatan perasaan batin yang kuat sesama anggota warga desa sehingga seseorang merasa dirinya merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat tempat ia hidup, serta rela berkorban demi masyarakatnya, saling menghormati, serta mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama di dalam masyarakat terhadap keselamatan
dan
kebahagiaan
bersama.
Adapun
ciri-ciri
masyarakat pedesaan antara lain; Setiap warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan warga masyarakat di luar batas-batas wilayahnya. Sistem kehidupan pada umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan, sebagian besar warga masyarakat pedesaan hidup dari pertanian, masyarakatnya homogen, seperti dalam hal 38
mata
pencaharian,
agama,
adat
istiadat
dan
sebagainya.
Masyarakat itu sering disangkut pautkan dengan petani biasanya mereka menggunakan alat-alat manual misalnya, menggunakan tenaga hewan untuk membajak sawah, cangkul, sabit dan sebagainya. Adapun mode produksi dalam bidang ekonomi biasanya berupa pertanian, pertambangan, perikanan, peternakan dengan cara tradisional. Sumber daya alamnya berupa angin, air, tanah, manusia,yang pada akhirnya mereka membutuhkan bahan mentah atau alam sebagai penunjang kehidupan. 2. Kegiatan Masyarakat Agraris Salah satu ciri khas dalam kehidupan masyarakat desa adalah adanya semangat gotong-royong yang tinggi. Misalnya pada saat mendirikan rumah, memperbaiki jalan desa, membuat saluran air dan sebagainya. Gotong royong semacam ini lebih dikenal dengan sebutan kerja bakti, terutama menangani hal-hal yang bersifat kepentingan umum. Ada juga gotong-royong untuk kepentingan pribadi, misalnya mendirikan rumah, pesta perkawinan dan kelahiran. Pekerjaan gotong royong terdiri atas dua macam, yaitu :
•
Kerja sama yang timbulnya dari inisiatif warga masyarakat itu sendiri (diistilahkan dari bawah, tanpa ada paksaan dari luar) 39
•
Kerja sama dari masyarakat itu sendiri, tapi berasal dari luar (biasa berasal dari atas, misalnya atas perintah aparat desa) Lebih dari 82 % masyarakat Indonesia tinggal di pedesaan
dengan
mata
pencaharian
agraris.
Masyarakat
pedesaan
mempunyai penilaian yang tinggi terhadap mereka yang dapat bekerja keras tanpa bantuan orang lain. Jadi, mereka bukanlah masyarakat yang senang berdiam diri tanpa aktivitas, tanpa ada suatu kegiatan, tetapi sebaliknya. Pada umumnya masyarakat desa sudah bekerja keras, namun mereka perlu diberikan pendorong yang dapat menarik aktivitas mereka, sehingga cara dan irama bekerjanya menjadi efektif, efisien dan berkelanjutan. Di Indonesia, aktivitas gotong roypng biasanya tidak hanya menyangkut lapangan bercocok tanam saja, tapi juga menyangkut lapangan kehidupan social lainnya seperti: a. Dalma hal bencanya atau musibah, contohnya: kematian, sakit atau kecelakaan. b. Dalam hal pekerjaan rumah tangga, contohnya: memperbaiki atap rumah, menggali sumur, dll. c. Dalam hal pesta, contohnya: pernikahan, kitanan, dll. d. Dalam hal kepentingan umum, misalnya: membuat irigasi, jembatan, jalan, dll.
40
3. Perkembangan Masyarakat Agraris Masyarakat agraris sebenarnya tidak stagnan; mereka berkembang dan berubah seperti kita namun pada tingkatan laju yang lebih rendah. Perubahan lambat yang menjadi nyata selama berpuluh-puluh atau beratus-ratus tahun dan selama periode yang demikian kita dapat mencirikan kecenderungan jangka-panjang dari proses siklik dan kejutan acaknya. Kecederungan untuk menjadi sederhana didalam kehidupan masyarakat agraris selalu saja terjadi dan telah mengakar kuat. Masyarakat agraris mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana menjalin hubungannya dengan alam tempat mereka hidup secara turun-temurun.
C. Defenisi Petani Yang dimaksud masyarakat tani di sini adalah masyarakat yang bermukim di daerah pedesaan yang mengolah usaha pertanian dan merupakan mata pencahariannya sebagai petani, mereka memanfaatkan sumber daya alam untuk keperluan hidup dengan sistem pengolahan masih tergolong sederahana. Adapun pekerjaan lain yang dilakukan adalah pekerjaan sampingan, seperti tukang kayu, pedagang, pengrajin, dan lain-lainnya.
41
“Menurut pendapat Wolf (1983) yang menyatakan bahwa: Petani adalah sebagian penduduk yang secara eksistensial terlibat dalam proses cocok tanam dan secara otonom menetapkan keputusan atas cocok tanam tersebut” (Suharni, 2007: 10). Soejitno dalam Mardikanto (2005) menyatakan bahwa selaras dengan pengertiannya yang menjadi sasaran penyuluhan pertanian terutama adalah petani pengelola usahatani dan keluarganya, yaitu bapak tani, ibu tani, dan pemuda/pemudi atau anak-anak petani. Petani sebagai pelaku sektor pertanian memiliki berbagai masalah di dalam melaksanakan usaha taninya. Secara umum, masalah tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu: 1. Masalah sumberdaya manusia Sebagian besar petani di dalam mengembangkan usahataninya dengan cara melihat petani lain yang telah berhasil. Mereka sangat hati-hati di dalam menerapkan inovasi baru karena mereka sangat takut dengan resiko gagal. Tanpa ada contoh yang telah berhasil petani sangat rentan untuk merubah usahataninya. 2. Masalah ilmu pengetahuan dan teknologi Sebagian besar petani masih berpendidikan Sekolah Dasar (SD) dan hanya sebagian kecil berpendidikan lanjutan. Pada umumnya ketrampilan bercocok tanam mereka peroleh dari 42
orang tuanya serta pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari usahataninya. 3. Masalah modal usahatani Masalah keterbatasan modal usahatani merupakan masalah yang mendasar bagi petani. Sebagian besar petani memperoleh modal usaha dari kekeyaan keluarga atau meminjam. 4. Pemasaran hasil usahatani Pada
saat
panen
raya
suplai
gabah
meningkat
sedangkan penawaran terbatas, serta petani tidak memiliki sarana penjemuran. Petani terkadang tidak memiliki pilihan untuk menjual gabahnya dengan harga layak atau harga yang lebih baik.(Patiwiri, 2007). Menurut
Soekartawi
(1988),
petani
dicirikan
oleh
karakteristik sebagai berikut: 1. Petani yang pendapatannya rendah, yaitu kurang dari 240 kg beras per kapita per tahun. 2. Petani yang memiliki lahan sempit, yaitu lebih kecil dari 0,25 Ha lahan sawah di Jawa atau 0,5 Ha di luar Jawa. Bila petani tersebut juga mempunyai lahan tegal, maka luasnya 0,50 Ha di Jawa atau 1,00 Ha di luar Jawa. 3. Patani yang kekurangan modal dan memiliki tabungan yang terbatas. 4. Petani yang memiliki pengetahuan yang terbatas. 43
Mosher (1970), mengelompokkan petani dalam 3 macam, yaitu: 1. Petani sebagai pengelola usahatani, pada umumnya petani sebagai pengelola atau manager dari usahataninya. 2. Petani sebagai jurutani, petani yang melakukan kegiatan bertani, yang memiliki pengalaman dan telah belajar dari pengalamannya.
3. Petani sebagai manusia, petani sepertihalnya manusia yang lain, ia juga mempunyai rasional, memiliki harapan-harapan, keinginan-keinginan, dan kemauan untuk hidup lebih baik. Menurut Kusnadi. H (1996) petani adalah seorang yang mempunyai profesi bercocok tanam (menanam tumbuh-tumbuhan) dengan
maksud
tumbuh-tumbuhan
dapat
berkembang
biak
menjadi lebih banyak serta untuk dipungut hasilnya, tujuan menanam tumbuh-tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan hidup yaitu
dapat
dimakan
manusia
dan
hewan
peliharaanya.
Mengemukakan bahwa sistem perekonomian yang berdasarkan kepada usaha bersama dari masyarakat secara keseluruhan dengan tujuan utama meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan meningkatkan pendapatan perkapita dan pembagian pendapatan yang merata dengan Negara (pemerintah) yang memainkan peran aktif untuk mengarahkan dan melaksanakan pembangunan.
44
Menurut Samsudin (1982), yang disebut petani adalah mereka yang untuk sementara waktu atau tetap menguasai sebidang tanah pertanian, menguasai sesuatu cabang atau beberapa cabang usaha tani dan mengerjakan sendiri, baik dengan tenaga sendiri maupun tenaga bayaran. Menguasai sebidang tanah dapat diartikan pula menyewa, bagi hasil atau berupa memiliki tanah sendiri. Disamping menggunakan tenaga sendiri ia dapat menggunakan tanaga kerja yang bersifat tidak tetap. Masyarakat tani dapat dipandang memiliki struktur sosial sendiri di dalamnya terlaksana pola-pola perilaku dengan corak dan ciri yang berbeda dengan komunitas kota, masyarakat tani dapat dikatakan system sosialnya masih sederhana tidak seperti masyarakat industri perkotaan yang begitu kompleks system kehidupannya. Kemiskinanan di pedesaan dilihat sebagai suatu hal yang terutama disebabkan oleh miskinnya sumber daya alam, kurangnya modal, kurangnya input langsung, keterbelkangan teknologi dan kurang berkembangnya keterampilan manusia. Soekartawi (1996) dalam (Rita, 2005: 25) menyatakan bahwa ukuran pendapatan usaha tani antara lain: 1. Pendapatan kotor usaha tani (gross farm income). Pendapatan kotor usaha tani sebagai nilai produk total usaha tani dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun yang tidak dijual. 45
2. Pendapatan bersih usaha tani (net farm income). Penghasilan bersih usaha tani adalah selisih antara pendapatan kotor usaha tani dan pengeluaran total usaha tani yang merupakan nilai masuk yang habis terpakai atau dikeluarkan di dalam produksi tetapi tidak termasuk tenaga kerja keluarga petani, bunga modal sendiri dan bunga modal pinjaman. 3. Penghasilan bersih usaha tani (net farm earning) penghasilan bersih usaha tani diperoleh dengan cara mengungkapkan pendapatan bersih dan bunga modal pinjaman. Hermanto
(1996)
menyatakan
bahwa
faktor
yang
mempengaruhi pendapatan usaha tani antara lain : 1. Luas lahan usaha, meliputi areal tanaman, luas pertanaman dan luas pertanaman rata-rata 2. Tingkat produksi yaitu ukuran-ukuran tingkat produksi 3. Pilihan dan kombinasi cabang usaha. Kemiskinan adalah suatu kondisi kekurangan dialami oleh seseorang atau suatu keluarga, kondisi kemiskinan ini disebabkan oleh beberapa faktor yang berbeda antara lain: 1. Kesempatan kerja yaitu seseorang dikatakan miskin karena menganggur sehingga tidak memperoleh penghasilan atau kalaupun bekerja tidak penuh, baik dalam ukuran hari, minggu, bulan, atau tahun. 2. Upah/gaji standar minimum 46
3. Produktifitas yang rendah 4. Tidak mempunyai asset 5. Adanya diskriminasi sex 6. Adanya penjualan tanah 7. Tekanan harga (hal ini terutama berlaku pada petani kecil dan pengrajin dalam bidang industri rumah tangga). Dari beberapa penyebab kemiskinan di atas, kita bisa lihat arah dari upaya-upaya pengentasan masyarakat dari kemiskinan, misalnya dengan penciptaan gaji/upah yang rendah, penyediaan asset untuk kegiatan produksi dan menghilangkan diskriminasi antara laki-laki dan perempuan.
D. Ukuran Kemiskinan Ukuran atau kategori kemiskinan menurut BPS (2005) antara lain: 1. Penduduk miskin dikatakan sangat miskin apabila kemampuan untuk memenuhi konsumsi makanan hanya mencapai 1900 kalori per orang per hari ditambah kebutuhan dasar non makanan, atau setara dengan Rp 120.000,- per orang/ per bulan
47
2. Penduduk dikatakan miskin apabila kemampuan memenuhi konsumsi makanan hanya mencapai antara 1900-2100 kalori/ orang ditambah kebutuhan dasar non makanan, atau setara Rp 150.000,- per orang per bulan 3. Penduduk dikatakan mendekati miskin apabila kemampuan memenuhi konsumsi hanya mencapai antara 2100-2300 kalori ditambah kebutuhan dasar non-makanan atau setara Rp 175.000,- per orang per hari. Rumah tangga miskin menurut BPS (2005) jika diasumsikan suatu rumah tangga memiliki jumlah anggota rumah tangga (household size) rata-rata 4 orang, maka batas garis kemiskinan rumah tangga adalah : 1. Rumah tangga dikatakan sangat miskin apabila tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya sebesar 4 x Rp 120.000,- =Rp 480.000 per rumah tangga/ bulan 2. Rumah tangga dikatakan miskin apabila kemampuan memenuhi kebutuhan dasarnya hanya mencapai 4 x Rp 150.000,- = Rp 600.000 per rumah tangga/ bulan, tetapi di atas Rp 480.00 3. Rumah tangga dikatakan mendekati miskin apabila kemampuan memenuhi kebutuhan dasarnya hanya mencapai 4 x Rp 175.000 = Rp 700.000,- per rumah tangga/ bulan, tetapi diatas Rp 600.000
48
Pengukuran Kemiskinan World Bank : World Bank membuat garis kemiskinan absolut US$ 1 dan US$ 2 PPP (purchasing power parity/paritas daya beli) per hari (bukan nilai tukar US$ resmi) dengan tujuan untuk membandingkan angka kemiskinan antar negara/wilayah dan perkembangannya menurut waktu untuk menilai kemajuan yang dicapai dalam memerangi
kemiskinan
di
tingkat
global
/internasional.
Angka konversi PPP adalah banyaknya rupiah yang dikeluarkan untuk membeli sejumlah kebutuhan barang dan jasa dimana jumlah yang sama tersebut dapat dibeli sebesar US$ 1 di Amerika Serikat. Angka konversi ini dihitung berdasarkan harga dan kuantitas di masing-masing negara yang dikumpulkan dalam suatu survei yang biasanya dilakukan setiap lima tahun. Chen dan Ravallion (2001) membuat suatu penyesuaian angka kemiskinan dunia dengan menggunakan garis kemiskinan US$ 1 perhari. Berdasarkan penghitungan yang dilakukan, pada tahun 1993 garis kemiskinan US$ 1 PPP per hari adalah ekuivalen dengan Rp. 20.811,- per bulan. Garis kemiskinan PPP disesuaikan antar waktu dengan angka inflasi relatif, yaitu menggunakan angka indeks harga konsumen. Pada tahun 2006, garis kemiskinan US$ 1 PPP ekuivalen dengan RP.97.218,- per orang per bulan dan garis kemiskinan US$ 2 PPP ekuivalen dengan RP.194.439,- per orang 49
per bulan. Perbandingan garis kemiskinan dan persentase penduduk miskin di Indonesia tahun 2006 menurut BPS dan World Bank adalah sebagai berikut:
Garis Kemiskinan dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia Tahun 2006
Garis Sumber Kemiskinan (Per Hari) BPS
World Bank
Garis Kemiskinan (Per Bulan)
Penduduk Miskin (%)
Rp. 5.066,57,≈ US$ 1,55 PPP
Rp. 151.997,-
17,80
USS 1 PPP ≈ Rp. 3.240,60,-
Rp. 97.218,-
7,40
USS 2 PPP ≈ Rp. 6.841,30,-
Rp. 194.439,-
49,00
Bank Dunia memprediksi jumlah penduduk Indonesia berpendapatan di bawah US$2 PPP per orang per hari pada tahun 2008 akan turun 4,6 juta orang dari 105,3 juta orang (45,2 persen) menjadi 100,7 juta orang (42,6 persen). Perhitungan itu dilakukan dengan menggunakan jumlah penduduk 232,9 juta orang pada tahun 2007 dan 236,4 juta orang pada tahun 2008. Perkiraan tersebut dibuat dengan memperhitungkan laju inflasi sekitar 6 persen, dampak kenaikan harga minyak dunia saat ini (sekitar US$94
per
barel),
dan
tercapainya
pertumbuhan
ekonomi
Indonesia tahun depan sebesar 6,4 persen.
50
Teknik Penghitungan Garis Kemiskinan World Bank: Tahap pertama adalah menentukan Penduduk referensi, yaitu 20 persen penduduk yang berada di atas Garis Kemiskinan Sementara, yaitu garis kemiskinan periode lalu yang di-inflate dengan inflasi umum (IHK). Dari penduduk referensi ini kemudian dihitung Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). Garis Kemiskinan Makanan adalah jumlah nilai pengeluaran dari 52 komoditi dasar makanan yang riil dikonsumdi penduduk referensi dan kemudian disetarakan dengan nilai energi 2.100 kilokalori
perkapita per hari. Penyetaraan nilai pengeluaran
kebutuhan minimum makanan dilakukan dengan menghitung harga rata-rata kalori dari ke-52 komoditi tersebut. Selanjutnya GKM tersebut
disetarakan
dengan
2.100
kilokalori
dengan
cara
mengalikan 2.100 terhadap harga implisit rata-rata kalori. Garis Kemiskinan Non-Makanan merupakan penjumlahan nilai kebutuhan minimum dari komoditi-komoditi non-makanan terpilih yang meliputi perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Nilai kebutuhan minimum per komoditi/sub-kelompok non-makanan
dihitung
dengan
menggunakan
suatu
rasio
pengeluaran komoditi /sub-kelompok tersebut terhadap total pengeluaran komoditi/sub-kelompok yang tercatat dalan data Susenas modul konsumsi. Rasio tersebut dihitung dari hasil Survei 51
Paket Komoditi Kebutuhan Dasar 2004 (SPKKD 2004), yang dilakukan untuk mengumpulkan data pengeluaran konsumsi rumahtangga
per
komoditi
non-makanan
yang
lebih
rinci
dibandingkan data Susenas modul konsumsi. Garis Kemiskinan merupakan penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan dan Garis Kemiskinan Non-Makanan. Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan dikategorikan sebagai penduduk miskin. Kemiskinan absolut merupakan suatu kondisi dimana tingkat pendapatan seseorang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokoknya seperti pangan, sandang, papan, kesehatan dan pendidikan, yang kemudian dirumuskan dengan membuat ukuran tertentu yang kongkrit, ukuran itu lazimnya beriorentasi pada kebutuhan hidup dasar manusia minimum anggota masyarakat. Masing-masing Negara mempunyai batasan kemiskinan absolute yang berbeda-beda, sebab kebutuhan hidup dasar masyarakat digunakan sebagai acuan, memang berlainan karena ukurannya dipastikan. Konsep kemiskinan ini mengenal garis batas kemiskinan.
Kemiskinan
relatif
adalah
dirumuskan
dengan
memperhatikan dimensi tempat dan waktu, dasar asumsi yaitu kemiskinan disuatu daerah dengan waktu yang lain. Penduduk yang sudah berpendapatan di atas garis kemiskinan, namun jauh lebih rendah dari pandangan penduduk sekitarnya, maka orang 52
tersebut masih dalam kemiskinan. Kemiskinan jenis ini masih dikatakan relatif karena lebih berkadang dengan meminta distribusi pendapatan antar lapisan sosial. Untuk
mendapatkan
gambaran
tentang
pengukuran
kemiskinan yang banyak digunakan saat ini, dapat dikemukakan beberapa pendapat sebagai berikut : Untuk mengukur kemiskinan dengan indicator sebagai berikut : 1. Pendapatan rata-rata perkapita. Apabila suatu masyarakat yang pendapatannya rata-rata perkapita per orang setahun kurang dari US $ 300, digolongkan sebagai masyarakat miskin. 2. Banyaknya gizi yang ada dalam makanan sehari-hari. kalau jumlah protein dan kalori dalam makanan sehari-hari kurang dari suatu batas tertentu, maka dapat digolongkan sebagai masyarakat miskin. 3. Suatu masyarakat harus setiap hari mampu member makan cukup kepada setiap anggota keluarganya. Yang dimaksud cukup ialah makan tiga kali sehari, yaitu pada waktu pagi, siang, dan malam. Jadi bagi masyarkat yang tidak mampu memberi makan kepada anggota keluarganya dalam sehari, maka masyarakat tersebut dianggap miskin, 4. Apabila ada rumah tangga yang secara terus menerus tidak mampu mencukupi kebutuhan bahan-bahan dasar pokok 53
menurut ketentuan, maka rumah tangga itu dapat dianggap sebagai rumah tangga miskin. 5. Apabila angka rata-rata kematian dalam suatu masyarakat tinggi, maka masyarakat itu dianggap miskin.
“Sayogya
dalam
Nugroho
(1995)
lebih
cenderung
menggunakan ukuran garis kemiskinan dengan pendekatan garis kemiskinan
absolut
dengan
cara
menegmbangkan
dan
memperhitungkan standar kehidupan pokok yang berdasarkan kebutuhan beras perorang pertahun”. (Ali hanafi, 1997:22)
E. Penyebab Kemiskinan Kemiskinan sebagai ketidak mampuan seseorang untuk memenuhi
kebutuhan
dasarnya
disebabkan
rendahnya
penghasilan (ekonomi) mereka, sehingga pemecahan yang logis adalah
dengan
sesungguhnya penghasilan,
akar tinggi
meningkatkan kemiskinan rendahnya
penghasilan, justru
bukan
penghasilan
sementara hanya
seseorang
pada erat
kaitannya dengan berbagai peluang yang dapat diraihnya, jadi lebih merupakan akibat dari suatu situasi yang terjadi oleh sebab kebijakan politik yang tidak adil yang diterapkan sehingga menyebabkan sebagian masyarakat tersingkirkan dari sumber daya kunci yang dibutuhkan dalam menyelenggarakan hidup mereka secara layak. Di Indonesia persentase penduduk yang 54
berada di bawah garis kemiskinan menurun cukup cepat di kotakota, tetapi tidak begitu cepat di daerah pedesaan, komunitas petani
yang merupakan mayoritas masyarakat Indonesia tidak
terlepas dari kondisi kemiskinan tersebut, kemiskinan petani, nelayan maupun peternak mewarnai kehidupan mereka dalam beraktivitas. Menurut Burki (1990) dalam (Taswin, 1995:14) ada 6 faktor yang menjadi penyebab kemiskinan pada bagian penduduk pedesaan yang bergerak dalam pertanian antara lain: 1. Pertumbuhan ekonomi yang lamban 2. Stagnasi produktifitas tenaga kerja 3. Tingkat semi pengangguran yang tinggi 4. Tingkat pendidikan formal yang rendah 5. Fasilitas yang tinggi 6. Degradasi sumber daya alam dan lingkungan Berdasarkan
hasil
studi
badan
penelitian
dan
pengembangan pertanian (BPPP) yang dilakukan di lapangan provensi di Indonesia penyebab kemiskinan antara lain: 1. Keterbatasan sumber daya alam kemiskinan yang disebabkan karena memang dasar alamiah miskin yaitu keadaan alamnya misalnya karena lahan yang kurang subur, tanahnya berbatubatu tidak menyimpan kekayaan mineral karena sumber daya
55
alamiah miskin maka masyarakat juga miskin sehingga terjadinya degradasi dan pendayagunaan lahan kurang 2. Teknologi dan pendukungnya yang tersedia masih rendah yang mengakibatkan penerapan teknologi terutama budidaya masih rendah. 3. Keterbatasan lapangan kerja, dimana membawa konsekwensi kemiskinan bagi masyarakat yang kualitasnya dan produktifitas yang masih rendah, karena tingkat pendidikan dan kesehatan yang masih rendah, disamping adanya pengaruh tradisi dan kesempatan kerja yang terbatas. Meskipun secara ideal dikatakan
bahwa
seseorang
harus
mampu
menciptakan
lapangan kerja baru, tetapi secara factual hal tersebut kecil kemungkinannya karena keterbatasan kemampuan seseorang baik berupa keterampilan maupun modal. 4. Keterbatasan
sarana,
prasaran,
dan
kelembagaan
yang
mengkibatkan terisolasi, perputaran modal kurang, bagi hasil yang tidak adil, dan tingkat upah yang relatif rendah. 5. Beban keluarga, dimana semakin banyak anggota keluarga akan semakin meningkat pula tuntutan beban hidup yang harus dipenuhi, seseorang yang mempunyai anggota banyak dan tidak diimbangi dengan usaha peningkatan pendapatan, akan menimbulkan kemiskinan. Kenaikan pendapatan yang dibarengi dengan pertambahan jumlah keluarga, berakibat kemiskinan 56
akan tetap melanda drinya dan kemiskinan itu akan bersifat laten. Menurut Sayogyo bahwa kemiskinan adalah suatu tingkat kehidupan yang berada dibawah standar kebutuhan orang cukup bekerja dan cukup hidup sehat berdasarkan atas kebutuhan beras dan
kebutuhan
gizi,
dan
berdasarkan
penelitiannya
ditarik
kesimpulan bahwa untuk daerah pedesaan diperlukan 240 kg dan daerah kota 360 kg ekuivalen beras pertahun (Tjahya, 2000:124). Sebagai masyarakat yang masih dicirikan oleh kehidupan komunalistik dan subsistem hal ini wajar jika pada gilirannya makna kemiskinan lebih dipersepsikan oleh diri mereka sendiri lebih sebagai faktor yang bersifat internal. Dalam hal ini defenisi kemiskinan disebutkan sebagai orang malas. Unsur pemilikan sawah ditempatkan dalam urutan pertama mengingat dari sumber inilah secara praktis kecukupan pangan sebuah rumah tangga dapat terjaga sepanjang tahun, kenyataannya hanya sedikit saja penduduk desa lokal yang memiliki sawah. Menurut bank dunia, penyebab dasar kemiskinan antara lain: 1. Kegagalan kepemilikan terutama tanah dan modal. 2. Terbatasnya ketersediaan bahan kebutuhan dasar, sarana dan prasarana.
57
3. Kebijakan pembangunan yang bias perkotaan dan bias sektor. 4. Adanya perbedaan kesempatan diantara anggota masyarakat dan sistem yang kurang mendukung. 5. Adanya sumber daya manusia dan perbedaan antara sektor ekonomi (ekonomi tradisional versus ekonomi modern). 6. Rendahnya produktifitas dan tingkat pembentukan modal dalam masyarakat. 7. Budaya hidup yang diikatkan dengan kemampuan seseorang mengelola sumber daya alam dan lingkungannya. 8. Tidak adanya tata pemerintahan yang bersih dan baik (Good govermance). 9. Pengelolaan sumber daya alam yang berlebihan dan tidak berwawasan lingkungan.
F. Penghambat dan Penanggulangan Kemiskinan Kemiskinan merupakan masalah sosial yang hadir di tengah-tengah masyarakat, khususnya di Negara berkembang. Dalam konteks Indonesia masalah kemiskinan merupakan juga masalah sosial yang sangat relevan untuk di kaji secara terus menerus. Dalam pembangunan jangka panjang Repelita III (1079/1980-1983/1984) pemerintah telah merancanang dua pokok kebijakan
pembangunan
yaitu:
pertama
mengurangi
jumlah
penduduk di bawah garis kemiskinan, dan kedua melaksanakan 58
delapan jalur pemerataan pembagian pendapatan, penyebaran pembangunan
di
seluruh
daerah,
kesempatan
memperoleh
pendidikan, kesehatan, kesempatan kerja, berusaha berpartisipasi dalam kegiatana pembangunan dan kesempatan memperoleh keadilan. Basis
kekuasaan
sosial
meliputi
tingkat
pendidikan,
pendapatan, kesehatan dan gizi, produktifitas pengasaan modal, keterampilan, teknologi dan hambatan infrastruktur serta jaringan sosial untuk kemajuan kehidupan. a. Faktor Penghambat Kemiskinan Fenomena kemiskinan bukan hanya terbatas kepada kurangnya keuangan, melainkan melebar kepada kurangnya kreativitas, inovasi, kesempatan untuk bersosialisasi dengan berbagai potensi dan sumber daya yang ada, atau secara khusus persoalan itu lebih melingkar diantara lemahnya mengembangkan potensi diri dan tertutupnya potensi diri untuk berkembang dimasyarakat. Mubyarto (1995) dalam (Ali hanafi, 1997: 18) sekurangkurangnya ada empat faktor yang disinyalir menjadi penghambat atau penyebab mengapa kemiskinan di pedesaan masih tetap mencolok antara lain: 1. Karena adanya pemusatan pemilikan tanah yang dibarengi dengan
adanya
proses
fregmentasi
pada
arus
bawah 59
masyarakat pedesaan, jumlah penduduk pedesaan yang terus bertambah tetapi tidak di imbangi dengan bertambahnya tanah telah menyebabkan semakin berkurangnya tanah yang dapat dimiliki petani kecil sehingga terjadi apa yang disebut Geertz sebagai shared proverty (pembagian kemiskinan), disamping itu tekanan kebutuhan sehari-hari yang terus meningkat dan harag produksi pertanian yang tidak menentu yang menyebabkan banyak warga desa yang menjual lahan miliknya agar dapat bertahan hidup. 2. Karena nilai tukar hasil produksi warga pedesaan khususnya sektor pertanian yang semakin jauh tertinggal dengan hasil produksi lain, termasuk kebutuhan hidup sehari-hari warga pedesaan. 3. Karena lemahnya posisi masyarakat desa khususnya petani dalam mata rantai perdagangan, sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam proses penjualan, biasanya pihak yang dominan menentukan harga adalah para pedagang atau para tengkulak. 4. Karena karakter struktur sosial masyarakat pedesaan yang terpolarisasi, bahwa selama ini sudah banyak berbagai program pembangunan diintroduksikan ke wilayah pedesaan.
60
b. Konsep Penanggulangan Kemiskinan Pendekatan mengenai konsep kemiskinan oleh beberapa program bantuan penanggulangan kemiskinan lebih banyak merupakan sebuah bentuk aplikasi dari pada aspek teoritis yang berkaitan dengan kemiskinan yang lebih bersentuhan langsung dengan masyarakat, sehingga pendekatannya lebih bersifat praktis dari pada teoritis. Seperti program inpres desa tertinggal (IDT) bertujuan untuk mempercepat upaya mengurangi jumlah penduduk miskin dan desa-desa miskin dimana ruang lingkupnya adalah sosial ekonomi penduduk miskin dengan membangun dan mengembangkan potensi ekonomi desa, memenuhi kebutuhan pokok, menyediakan pelayanan dasar, disertai penciptaan suasana yang
mendukung
upaya
penaggulangan
kemiskinan
serta
mengaktifkan kembali ekonomi rakyat dengan memberdayakan kaum miskin. Sedangkan
dana
untuk
pembangunan
sarana
dan
prasarana dasar lingkungan merupakan dan hibah yang perlu dikembalikan,
namun
masyarakat
harus
menunjukkan
kesanggupan dan tanggung jawabnya untuk dapat melakukan pemeliharaan serta pengembangan lebih lanjut yang diprioritaskan dapat memberikan dampak langsung kepada peningkatan produksi dan peningkatan masyarakat.
61
G. Kerangka Konseptual Kemiskinan memenuhi
ditandai
kebutuhan
ketidak
utamanya
mampuan
seperti
masyarakat
sandang,
pangan,
kesehatan, dan pendidikan. Dalam kehidupan manusia sehari-hari kemiskinan adalah sesuatu yang nyata adanya bagi mereka yang tergolong miskin kerana mereka ini sendiri merasakan dan menjalani kehidupan dalam kemiskinan tersebut. Munculnya kemiskinan ditandai oleh berbagai faktor keterbatasan yang mengakibatkan rendahnya kualitas kehidupan seperti rendahnya penghasilan, terbatasnya kepemilikan rumah tinggal yang layak huni, pendidikan dan keterampilan yang rendah. Distribusi pendapatan sering diukur dengan membagi penduduk menjadi 5 atau 10 kelompok (quintiles atau deciles) sesuai dengan tingkat pendapatannya. Kemudian menetapkan proporsi yang diterima oleh masing-masing kelompok pendapatan. Selanjutnya ukuran distribusi pendapatan dapat diukur dengan “Rasio Konsentrasi Gini” (gini consentration ratio) atau lebih sederhana disebut dengan Koefisien Gini.
“Koefisien Gini adalah ukuran ketidak seimbangan/ ketimpangan (pendapatan, kesejahteraan) agregat (keseluruhan) yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan sempurna). Dalam prakteknya, Koefisien Gini pada negara-negara yang dikenal begitu tajam ketimpangan kesejahteraan di kalangan penduduknya berkisar antara 0,50 hingga 0,70. Sedangkan untuk negara-negara yang distribusi pendapatannya dikenal paling merata, Koefisien Gini berkisar antara 0,20 sampai 0,35 “ (Todaro, 1995: 150-151). 62
Faktor-faktor penyebab kemiskinan, disamping faktor-faktor kondisi alam dan geografis, juga disebabkan oleh faktor-faktor ketidak adilan ekonomi, sosial ataupun politik, yang mengakibatkan apa yang disebut Kemiskinan Struktural (Struktural Poverty) baik pada tatanan negara ataupun internasional.
Kemiskinan Struktural dapat dijelaskan dengan fenomenafenomena urban bias, urban-urban dualism, proletarianization serta yang terakhir dapat dijelaskan pula oleh fenomena environmental destruction. Kemiskinan tersebar pula dengan pola yang terstruktur mulai dari remote area, urban area, sub-urban area, dan urban slum. (Blog; Julissar An-naf) Teori pembangunan yang khusus menganalisis phenomena kemiskinan di negara-negara berkembang dan negara terbelakang (developing and under-developed countries) menekankan akan tiga faktor penyebab kemiskinan yakni: 1. Kemiskinan natural adalah keadaan kemiskinan karena dari asalnya memang miskin karena tidak memiliki sumber daya memadai. 2. Kemiskinan
struktural
sesungguhnya
adalah
gambaran
keadaan miskin masih rendah. 3. Kemiskinan kultural adalah mengacu pada sikap seseorang atau masyarakat yang disebabkan oleh gaya hidup, kebiasaan
63
hidup, budayanya, mereka sudah merasa berkecukupan dan tidak merasa kekurangan. Kemiskinan struktural merupakan sisi eksternal dari si miskin. Ia berkaitan kegagalan sistem politik, institusi pemerintah, struktur elit dan birokrasi kekuasaan, serta berbagai kebijakan yang "pro-rakyat" (people-oriented development). Disatu sisi Pemerintah
berusaha
memerangi
kemiskinan
(the
poverty
alleviation) karena faktor struktural, kultural dan natural, tetapi kemudian terjebak dalam perangkap kemiskinan itu sendiri (the poverty traps). Dalam arti ketika Pemerintah berusaha menjawab pertanyaan kemiskinan ekonomi dan persoalan keterbelakangan sosial, ternyata di dalam jawaban masih banyak menyisakan pertanyaan. Inilah yang dikenal dengan istilah "antagonistic developmentalism".
Kemiskinan Kultural Kemiskinan
kultural
adalah
kemiskinan
dimana
penyebabnya berasal dari dalam, budaya dia sendiri yang menyebabkan ia terbelit dalam kemiskinan. Dalam diri manusia ada sifat yang membuat ia kaya dan ada juga yang membuat ia miskin. Ada sifat inheren yang membuat orang itu kaya demikian juga sifat yang membuat orang itu menunjang untuk miskin. Dalam lingkup yang lebih luas, ada sifat atau karakter bangsa yang membuat bangsa itu selalu terbelit dalam kemiskinan, demikian pula ada 64
karakter bangsa yang membuat bangsa itu cepat bangkit dari suatu kemiskinan. Kemiskinan kultural terjadi karena kita mempunyai pesimis, alias penyakit si miskin. Boros, mementingkan hal yg bersifat aksesoris, keinginan pamer, tidak mempunyai harga diri, malas, menunda waktu, tidak punya kepedulian kepada yang lain adalah contoh-contoh dari pesimis.
Kemiskinan Struktural Petani dan nelayan di Indonesia bukanlah pekerjaan yang membuat bangga, kehidupan mereka selalu tertindas. Pada saat musim panen, harga hasil pertanian mereka turun drastis, sedangkan pada musim paceklik, justru mereka sendiri tidak dapat menikmati harga komoditi pertanian yang tinggi. Kemiskinan yang terjadi karena strukturnya yang tidak memungkinkan ia untuk berkembang. Kemiskinan yang terjadi karena faktor luar yang lebih luas. Meskipun ia mempunyai sifatsifat yang semestinya membuat ia kaya, tetapi karena strukturnya atau faktor luar yang tidak mendukung, ia tetap akan terbelit dalam kemiskinan. Untuk penanganan masalah kemiskinan struktural ini, pemerintah harus lebih berperan aktif. Pemerintah harus berpikiran dan mempunyai sifat seperti seorang kaya. Pemerintah harus mempunyai pemikiran jauh kedepan, mempunyai planning dan 65
‘mimpi’ akhir dari suatu perjalanan bangsa ini, sehingga semua daya dan upaya diarahkan untuk mencapai mimpi tersebut. Selain Kemiskinan
Struktural
dan
Kemiskinan
Kultural,
ada
yang
mengatakan bahwa salah satu penyebab kemiskinan adalah
Kemiskinan Natural Dalam Kemiskinan Natural disebutkan bahwa yang menjadi penyebab dari suatu kemiskinan adalah kondisi alam. Kemiskinan natural sebagai bagian dari penyebab kemiskinan merupakan pembenaran terhadap ketidakberdayaan atau kemalasan manusia. Pengentasan kemiskinan tentunya sangat diperlukan suatu kajian yang menyeluruh, sehingga dapat menjadi acuan dalam merancang program pembangunan kesejahteraan sosial yang lebih menekankan pada konsep kesejahteraan sebagai upaya menolong yang miskin dan tidak berdaya agar berdaya baik secara fisik, mental, maupun pikiran untuk mencapai hidup yang lebih berarti, sehingga mengungkapkan keterlibatan masyarakat pedesaan pada sektor non pertanian jenis pekerjaan dapat diperoleh tergantung dari berbagai factor, baik dari individu pekerja seperti tingkat pendidikan, ketekunan serta kemampuan untuk memilih alternative pekerjaan.
66
Faktor lingkungan menyangkut adanya kegiatan ekonomi yang akhirnya dapat diisi oleh anggota keluarga, faktor lain kepemilikan modal dipakai sebagai modal dalam kegiatan usaha di luar sektor pertanian seperti berdagang sebagian besar merupakan usaha dagang kecil-kecilan, akan tetapi diantara mereka yang kebutuhan pokoknya belum terpenuhi dalam arti masih berada di bawah garis kemiskinan. Menurut
sunyoto
usman,
upaya-upaya
dalam
menanggulangi kemiskinan sampai saat ini masih dinilai belum berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Kemiskinan belum berkurang dan isu-isu ketimpangan masalah semakin deras mencuat ke permukaan.
67
SKEMA KERANGKA KONSEPTUAL MASYARAKAT AGRARIS
KEMISKINAN
KEMISKINAN NATURAL KEMISKINAN STRUKTURAL KEMISKINAN KULTURAL
PENYEBAB KEMISKINAN
PENGENTASAN KEMISKINAN
PENGHAMBAT KEMISKINAN
KEHIDUPAN YANG SEJAHTERA
Gambar 1. Skema
68
BAB III METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Lokasi Penelitian 1. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan kurang lebih selama dua bulan, dimulai dari Akhir bulan April sampai dengan Awal bulan Juli 2012.
2. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian dilaksanakan di Desa Kasiwiang, Kec.Suli, Kab.Luwu, dengan pertimbangan bahwa sebagian besar dari petani sawah masih saja mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
B. Tipe dan Dasar Penelitian 1. Tipe Penelitian Adapun tipe penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif yakni sebuah penelitian yang berusaha memberikan gambaran atau uraian yang bersifat deskriptif mengenai suatu kolektifitas objek yang diteliti secara sistematis dan aktual mengenai fakta-fakta yang ada.
69
2. Dasar Penelitian Metode penelitian adalah cara yang dilakukan peneliti untuk mendekati objek penelitian agar mencapai sasaran yang diinginkan. Dalam pelaksanaan penelitian ini menggunakan Dasar penelitian studi kasus (case study), yaitu penelitian melakukan secara intesif, terperinci dan mendalam terhadap suatu masalah yang menjadi objek penelitian. Untuk itu penelitian ini ditujukan agar dapat dipelajari secara intensif mendalam, mendetail dan komperehensif terhadap objek penelitian, guna menjawab permasalahan yang diteliti.
C. Sumber data Dalam penelitian ini akan berpatokan pada dua macam sumber data yaitu: 1. Data primer data yang diperoleh langsung dari informan atau objek yang diteliti, yang ada hubungannya dengan apa yang diteliti. 2. Data sekunder data pelengkap yang telah lebih dahulu dikumpulkan dan dilaporkan oleh orang atau instansi terkait, sumber ini dapat berupa buku, disertasi, ataupun tesis, majalah70
majalah ilmiah, dan data-data statistik yang diterbitkan pemerintah.
D. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data merupakan langkah yang amat penting serta data yang digunakan harus valid. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mengambil data primer, dimana data primer adalah data yang dikumpulkan melalui pengamatan langsung dari tempat penelitian, dan untuk melengkapi data yang dilakukan, yaitu menggunakan wawancara mendalam kepada informan dengan berpedoman pada daftar pertanyaan yang erat kaitannya dengan permasalahan yang akan diteliti. Pada pengumpulan data primer, peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data antara lain: 1. Observasi/ Pengamatan Observasi
atau
Pengamatan
adalah
teknik
pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan secara langsung terhadap objek yang akan diteliti. 2. Wawancara Mendalam (Depth Interview) Wawancara
atau
Depth
Interview
adalah
pengumpulan data dengan menggunakan teknik wawancara mendalam atau antara peneliti dan informan yang dilakukan 71
untuk mendapatkan keterangan dengan jelas. Pengumpulan data yang dibimbing oleh pedoman wawancara yang sudah dipersiapkan.
Teknik
ini
disertai
pencatatan
konsep,
gagasan, pengetahuan informan yang diungkapkan lewat tatap muka. 3. Dokumentasi Merupakan salah satu cara memperoleh data dengan sejumlah dokumentasi yang berasal dari dinas dan instansi terkait, selain itu menghimpun dan merekam data yang bersifat dokumentatif.
E. Teknik Pemilihan Informan Pemilihan
informan
dilakukan
dengan
menggunakan
(purposive sampling) yang dipilih secara sengaja berdasarkan kriteria tertentu. Dari keseluruhan petani sawah yang ada di Desa Kasiwiang, dipilih sebanyak Lima orang petani sawah yang keadaan ekonominya lemah, yang dianggap mampu memberikan data yang akurat tentang apa yang akan ingin dicapai dalam penelitian ini.
72
F. Teknik Analisis Data Data yang diperoleh dari hasil penelitian akan dianalisis secara kualitatif, dimana data yang diperoleh di lapangan, diolah kemudian disajikan dalam bentuk tulisan. Menyangkut analisis data kualitatif, menganjurkan tahapan-tahapan dalam menganalisis data kualitatif sebagai berikut:
1. Reduksi data, yaitu menyaring data yang diperoleh di lapangan kemudian dituliskan kedalam bentuk uraian atau laporan terperinci, laporan tersebut direduksi, dirangkum, dipilih, difokuskan pada bantuan program, disusun lebih sistematis, sehingga mudah dipahami. 2. Penyajian data, yaitu usaha untuk menunjukkan sekumpulan data
atau
informasi,
untuk
melihat
gambaran
keseluruhannya atau bagian tertentu dari penelitian tersebut. 3. Kesimpulan,
merupakan
proses
untuk
menjawab
permasalahan dan tujuan sehingga ditentukan saran dan masukan untuk pemecahan masalah.
73
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A. LETAK GEOGRAFIS a. Letak Geografis dan Batas Administrasi Luas wilayah pada Desa Kasiwiang secara keseluruhan adalah ±10,13 Km² yang meliputi wilayah daratan rendah dan berbukit-bukit. Desa Kasiwiang terletak di bagian utara Kecamatan Suli dengan jarak tempuh ± 7 Km, dan di bagian sebelah selatan Kota Belopa yang merupakan Ibukota Kabupaten Luwu dengan jarak tempuh ± 1 Km. Luas batas-batas wilayah Administrasi Desa Kasiwiang sebagai berikut: -
Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Senga Selatan
-
Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Cimpu
-
Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Malela
-
Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Cakkeawo
Serta di dalam Desa Kasiwiang terdiri dari 3 Dusun yaitu: -
Dusun Kasiwiang,
-
Dusun Teten Tanah,
-
Dusun Tiwo. 74
b. Tofografi dan Iklim 1. Keadaan topografi di Desa Kasiwiang yaitu dataran rendahnya seluas 292 Ha/m², daerah yang berbukit-bukit 30 Ha/m², dengan kelembaban 26 – 28 °C ketinggian 0 – 4 mdl. 2. Keadaan Jenis Tanah Keadaan tanahnya terdiri dari tanah Alluvial, Latosol dan Gromozol dengan tekstur tanah lempung sampai liat dengan pH 5-7 menyebar sepanjang pesisir pantai yang membujur dari bagian utara ke selatan. 3. Keadaan Iklim dan Suhu Rata-Rata Keadaan Iklimnya Tropis yaitu pada bulan Juli – September (bulan basah), bulan Januari – Februari ( bulan kering) dan bulan Oktober – Nopember (bulan lembab). Data Curah Hujan Data Curah Hujan untuk Kecamatan Suli dapat dilihat pada Tabel 1.1.
75
Tabel I.1. Rata-Rata Curah Hujan dan Tipe Bulanan Oldeman Bulan
Rata – Rata
Tipe Bulanan Oldeman
Januari
82,50
Bulan Kering
Februari
75,30
Bulan Kering
Maret
160,80
Bulan Lembab
April
240,40
Bulan Basah
Mei
222,00
Bulan Basah
Juni
199,50
Bulan Lembab
Juli
239,40
Bulan Basah
Agustus
141,40
Bulan Lembab
September
88,00
Bulan Kering
Oktober
86,90
Bulan Kering
Nopember
155,30
Bulan Lembab
Desember
385,60
Bulan Basah
Jumlah
2.071,3
-
Jumlah BK
83,17
-
Jumlah BB
271,85
-
Keterangan : 1. Jumlah BB (Oldeman): 4
4. Tipe Iklim Oldeman
: C1
2. Jumlah BL (Oldeman): 4
5. Indeks klim Schmid Ferguson : 19,51
3. Jumlah BK (Oldeman): 4
6. Tipe Iklim Schmid Ferguson : B
Melihat Tabel I.1. diatas, menurut Oldeman cocok untuk tanaman padi sawah dan palawija sementara untuk 76
pengembangan tanaman hortikultura khususnya buahbuahan dan peternakan dapat dikembangkan. c. Luas Wilayah Menurut Penggunaan Tanah 2010 (Ha) Menurut data dari profil Desa Kasiwiang tahun 2010 luas penggunaan tanah di Desa Kasiwiang ini adalah 352,04 Ha/m², yang dimana sebahagian lahannya terdiri dari tanah sawah yang luas keseluruhannya 105 Ha/m², tanah kering luas keseluruhannya 50,88 Ha, sedangkan luas keseluruhan perkebunan 120,51 Ha/m², dan luas keseluruhan tanah fasilitas umum sebanyak 75,65 Ha/m². Untuk lebih spesifiknya lihat tabel I.2. Tabel I.2. Luas wilayah menurut penggunaan tanah
Letak Klasifikasi
No.
Luas Wilayah
Tanah
Tanah
Tanah
Sawah
Kering
Basah
Tanah
Tanah
Perkebunan Fasilitas umum
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.
Pemukiman Persawahan Perkebunan Kuburan Pekarangan Taman Perkantoran Prasaran a umum lainnya
105 -
50,88 -
-
120,51 -
50,21 0,22 25,22
Jumlah
105
50,88
-
120,51
75,65
.
Sumber : Pimpinan Pertanian Kecamatan (PPK)
77
Menurut tabel diatas menunjukkan jelas bahwa luas tanah sawah atau persawahan lebih banyak dari pada luas tanah-tanah lainnya. Itu menunjukkan di desa Kasiwiang ini banyak masyarakat yang berprofesi sebagai petani sawah. Meski beberapa dari mereka mengarah keperkebunan. Tapi tak dapat dipungkiri masyarakat petani di desa Kasiwiang masih cenderung mengalami masalah ekonomi di dalam keluarganya.
B. Kondisi Demografi Keadaan demografi merupakan salah satu faktor yang sangat
penting
pembangunan
dalam
sosial
kaitannya
ekonomi
yang
dengan
pelaksanaan
mempengaruhi
proses
mobilitas sosial masyarakat. Faktor penduduk ini menempati posisi yang paling utama, karna seperti yang kita ketahui bahwa pembangunan itu adalah suatu upaya manusia untuk merubah pola hidup dan posisi sosial mereka untuk tetap memenuhi kebutuhan hidupnya. Sumber daya manusia merupakan salah satu modal dasar pembangunan, selain sumber daya alam namun yang perlu diketahui bahwa pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali dapat menjadi kendala dalam proses perubahan sosial, seperti lambatnya mobilitas sosial karna distribusi dalam berbagai aspek kehidupan tidak merata, sehingga tingkat pendapatan masyarakat tidak seimbang dengan tingkat kebutuhan yang diperlukan. 78
Keadaan demografi Desa Kasiwiang Kecamatan, Suli Kab, Luwu sebagai berikut:
a. Kependudukan Jumlah penduduk Desa Kasiwiang sebanyak 879 jiwa yang terdiri dari 434 jiwa adalah laki-laki dan perempuan sebanyak 445 jiwa. Dengan jumlah kepala keluarga 205 KK. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel berikut ini:
Tabel II. 1. Keadaan Penduduk Desa Kasiwiang Tahun 2010
Umur
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
(Tahun)
(Orang)
(Orang)
(Orang)
No
1.
0 – 15
148
139
287
2.
16 – 31
127
144
271
3.
32 – 47
91
85
176
4.
48 – 63
41
44
85
5.
64 keatas
27
33
60
434
445
879
JUMLAH
Klasifikasi penduduk berdasarkan tingkat usia di desa Kasiwiang.
79
b. Pendidikan Memasuki abad ke- 21 dunia pendidikan di Indonesia menjadi heboh. Kehebohan tersebut bukan disebabkan oleh kehebatan
mutu
pendidikan
nasional
tetapi
lebih
banyak
disebabkan karena kesadaran akan bahaya keterbelakangan pendidikandi Indonesia. Perasan ini disebabkan karena beberapa hal yang mendasar. Salah satunya adalah memasuki abad ke-21 gelombang globalisasi dirasakan kuat dan terbuka. Kemajaun teknologi dan perubahan yang terjadi memberikan kesadaran baru bahwa Indonesia tidak lagi berdiri sendiri. Indonesia berada di tengahtengah dunia yang baru, dunia terbuka sehingga orang bebas membandingkan kehidupan dengan Negara lain. Yang kita rasakan sekarang adalah adanya ketertinggalan di dalam mutu pendidikan. Baik pendidikan formal maupun informal. Dan hasil itu diperoleh setelah kita membandingkannya dengan Negara lain. Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam meningkatkan
sumber
daya
manusia
Indonesia
untuk
pembangunan bangsa. Oleh karana itu, kiata seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan sumber daya manusia di Negara-negara lain.
80
Setelah kita amati, nampak jelas bahwa masalah yang serius dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenjang pendidikan, baik pendidikan
formal
maupun
informal.
Dan
hal
itulah
yang
menyebabkan rendahnya mutu pendidikan yang menghambat penyediaan sumber daya menusia yang mempunyai keahlian dan keterampilanuntuk memenuhi pembangunan bangsa di berbagai bidang. Ada banyak penyebab mengapa mutu pendidikan di Indonesia, baik pendidikan formal maupun informal, dinilai rendah. Salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan adalah tingkat pendidikan yang rendah ada dapat dilihat dari table dibawah ini.
Tabel II.2. Tingkat Pendidikan di desa Kasiwiang Tahun 2010
No
Tingkat Pendidikan
Jumlah (Orang)
1.
Perguruan Tinggi
27
2.
SMU atau sederajat
91
3.
SMP atau sederajat
96
4.
SD atau sederajat
80
5.
Belum / Tidak pernah sekolah
219
J U M L A H
513
Klasifikasi penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di desa Kasiwiang
81
c. Pemerintahan Dalam Lembaga pemerintahan di desa Kasiwiang, terdapat 7 aparat pemerintahan desa yaitu: -
Kepala Desa kasiwiang
-
Sekertaris Desa
-
Kepala urusan pemerintahan
-
Kepala urusan pembangunan
-
Kepala urusan pemberdayaan masyarakat
-
Kepala urusan umum
-
Kepala urusan keuangan Dan terdapat pula Badan Permusyawaratan Desa (BPD)
yang terdiri dari 5 orang yaitu: -
Ketua BPD
-
Wakil Ketua
-
Sekertaris, dan
-
2 orang anggota
d. Sosial Desa Kasiwiang memiliki sarana formal yaitu hanya 1 buah sekolah dasar (SD), dengan jumlah tenaga pengajar sebanyak 7 orang, Berdasarkan hal itu dengan hanya adanya 1 buah Sekolah Dasar, belum mampu untuk meningkatkan pendidikan yang ada di 82
desa Kasiwiang khususnya anak-anak diatas 6 tahun, yang seharusnya semuanya bisa menambah ilmu di sekolah tersebut hanya karena keterbatasan jumlah sekolah dasar. Oleh karena itu diperlukan
kesadaran
orangtua
masing-masing
anak
untuk
menyekolahkan anaknya. Hingga minimal sampai SLTA atau bahkan hingga ke perguruan tinggi sekalipun. Selain didunia pendidikan, adapun perkembangan desa Kasiwiang dilihat dari beberapa bidang sebagai berikut:
1. Pertanian Desa Kasiwiang pada bidang pertanian secara keseluruhan jumlah keluarga yang memiliki tanah pertanian sebanyak 139 KK, yang terbagi menjadi 2 yaitu: memiliki tanah kurang dari 1 Ha sebanyak 129 KK, dan yang memiliki 1,0 – 5,0 Ha sebanyak 10 KK. Namun ketika dilihat dari luas tanaman pangan menurut komoditas pada tahun 2010 dapat di klasifikasikan pada tabel berikut ini.
83
Tabel II.3. Luas Tanaman Pangan di desa Kasiwiang
No
Tanaman Pangan
Luas (Ha)
Jumlah hasil (Ton/Ha)
1. Padi sawah
105
5
2. Ubi kayu
0,03
-
3. Ubi jalar
0,03
-
4. Cabe
0,2
-
0,03
-
0,2
-
105, 49
5
5. Tomat 6. Terong J U M L A H
►Klasifikasi tanaman pangan menurut komoditas pada tahun 2010
2. Perkebunan Pada bidang perkebunan di desa Kasiwiang jumlah keluarga yang memiliki tanah perkebunan ialah 109 KK, dan hasil perkebunan menurut jenis komoditas dapat dilihat berdasarkan tabel di bawah ini.
84
Tabel II.4 Luas dan Hasil perkebunan menurut jenis komoditas
Swasta/negara No.
Jenis
Rakyat
Luas
Hasil
Luas
Hasil
(ha)
(kw/ha)
(ha)
(kg/ha)
1.
Kelapa
-
-
1
-
2.
Cengkeh
-
-
0,2
-
3.
Coklat
-
-
11
20
4.
Jambu Mente
-
-
7
10
19,2
30
Jumlah Sumber : Buku profil desa Kasiwiang tahun 2010
3. Perternakan Perkembangan desa Kasiwiang pada bidang peternakan dilihat dari jenis populasi ternak dapat dibagi kedalam 3 hal yaitu: Jenis ternak, Jumlah pemilik, dan Perkiraan jumlah populasi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
85
Tabel II.5. Jenis Populasi Ternak di Desa Kasiwiang No
Jenis Ternak
Jumlah Pemilik
Perkiraan Jumlah Populasi
7 orang
47 ekor
-
-
97 orang
2213 ekor
-
-
Bebek
3 orang
113 ekor
6.
Kambing
12 orang
65 ekor
7.
Kuda
-
-
8.
Angsa
3 orang
17 ekor
9.
Itik
3 0rang
12 ekor
125 orang
2467 ekor
1.
Sapi
2.
Kerbau
3.
Ayam Kampung
4.
Ayam Potong
5.
J U M L A H
Sumber : Buku profil desa Kasiwiang tahun 2010
e. Sarana dan Prasarana Untuk menunjang proses kegiatan-kegiatan sosial maupun kegiatan
ekonomi,
maka
sarana
angkutan
sangat
penting
keberadaannya. Hal tersebut selain menunjang untuk kegiatankegiatan sosial ekonomi tertentu, dapat pula mempengaruhi proses mobilitas sosial tiap individu atau masyarakat. Proses mobilitas sosial petani yang ada di daerah pedesaan, sangat ditentukan oleh sarana transportasi yang ada. Hasil-hasil usaha yang diperoleh yang dianggap potensial untuk mempengaruhi proses mobilitas sosialnya sangat ditentukan oleh sarana dan prasaran, terutama
86
sarana pendistribusian hasil-hasil usaha mereka yang dapat menghasilkan keuntungan-keuntungan ekonomi dan jasa. Banyaknya angkutan darat bermotor tercatat 56 buah yang terdiri dari mobil truk sebanyak 1 buah, Pick Up/pete-pete atau Angkutan Per-Desa/Kelurahan 1 buah, sepeda motor 26 buah sedangkan yang tidak bermotor tercatat Sepeda 19 buah. Untuk Prasarana Komunikasi terdapat 231 buah Telpon seluler/ponsel, Televisi 131 buah, dan Parabola 39, serta Radio tercatat 1 buah. Untuk prasarana yang lain seperti Prasarana Peribadatan yaitu mesjid sebanyak 2 buah. Prasarana Olahraga yaitu Lapangan bulu tangkis 1 buah, dan Lapangan voli 1 buah. Prasarana Kesehatan yaitu Puskesmas pembantu 1 unit, dan Posyandu 1 unit. Prasarana Pendidikan yaitu Gedung SD/Sederajat 1 unit. Prasarana Energi dan Penerangan yaitu Listrik PLN sebanyak 143 rumah, dan Lampu minyak tanah 62 rumah. Prasarana Air bersih dan Sanitasi yaitu sumur pompa air sebanyak 2 unit, sumur gali sebanyak 147 unit, dan Pemilik jumlah jamban sebanyak 147 KK. Prasarana Irigasi yaitu Pintu pembagi air sebanyak 3 unit.
87
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pembahasan pada BAB V ini didasarkan pada seluruh data yang yang berhasil dihimpun pada saat penulis melakukan penelitian
lapangan
di
Desa
Kasiwiang,
Kecamatan
Suli,
Kabupaten Luwu. Data yang dimaksud dalam hal ini merupakan data primer yang bersumber dari jawaban para informan dengan menggunakan pedoman wawancara atau wawancara secara langsung sebagai media pengumpulan data yang dipakai untuk keperluan penelitian. Dari data ini diperoleh beberapa jawaban menyangkut tentang kemiskinan pada masyarakat agraris, termasuk faktorfaktor apa saja yang menyebabkan kemiskinan pada petani sawah, serta faktor apa pula yang menjadi penghambat petani sawah dalam mengatasi kemiskinan.
A. Identitas Informan Jumlah informan dalam penelitian ini sebanyak lima orang, dimana dalam menentukan informan dilakukan dengan cara teknik (purposive sampling) yang dipilih secara sengaja berdasarkan kriteria tertentu yaitu petani sawah. Dalam penentuan informan, pertama-tama dipilih satu atau dua orang, tetapi karena dengan 88
dua orang ini belum merasa lengkap terhadap data yang diberikan, maka peneliti mencari orang lain yang dipandang lebih tahu dan dapat melengkapi data yang diberikan oleh dua orang sebelumnya. Begitu seterusnya, sehingga jumlah informan yang peneliti temukan sebanyak lima orang. Identitas informan yang dipilih didasarkan atas beberapa identifikasi seperti, Nama, Umur, Agama, Jenis kelamin, Alamat, Pendidikan terakhir, Status dalam keluarga, dan sudah berapa lama dia menjadi Petani sawah.
Profil Informan Informan “IM”(Laki-laki) Informan IM berumur 50 tahun, beragama Islam dan berstatus sebagai kepala keluarga dengan 1 istri dan 3 orang anak, pendidikan informan hanya sampai sekolah menengah atas (SMA), informan IM lahir di Desa Kasiwiang dan bertempat tinggal di Dusun Teten tanah serta sudah menggeluti pekerjaan sebagai petani sawah selama 30 tahun dan ia sudah memiliki rumah sendiri dari hasil sebagai petani sawah, walau rumah tersebut belum seutuhnya kelar masih dalam proses pembangunan. Selain sebagai petani sawah Informan IM juga biasanya melakukan pekerjaan sampingan, seperti berkebun yaitu menanam coklat, cengkeh, kelapa, dan kayu jati. Informan IM menggunakan 89
penghasilnya untuk menyekolahkan 3 orang anaknya dan satu keponakannya. Informan IM ini juga memasarkan hasil setiap kali panennya yang dimana dibantu dengan anak dan pekerjanya.
Informan “SF”(Laki-laki) Informan SF berumur 31 tahun dan beragama Islam, berstatus sebagai kepala keluarga dengan 1 istri dan 3 orang anak. Informan SF bertempat tinggal di kawasan sekolah dasar yang ada di Desa Kasiwiang tepatnya di Dusun Tiwo, Pendidikan terakhir informan SF hanya sampai pada sekolah menengah atas (SMA), informan SF menekuni pekerjaan sebagai petani sawah selama 7 tahun. Informan SF biasanya ia juga mencari pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya seperti menjadi kuli bangunan.
Informan “RM”(Perempuan) Informan RM berumur 53 tahun beragama Islam dan lahir di Kecamatan Bajo namun ia sudah lama berdomosili di Desa Kasiwiang tepatnya di Dusun Teten tanah serta Informan RM juga berstatus sebagai Ibu kepala keluarga dengan 4 orang anak. Pendidikan terakhir informan RM hanya sampai pada sekolah menengah pertama (SMP), Selama 20 tahun menekuni pekerjaan sebagai petani sawah ia mampu menyekolahkan 1 anaknya hingga 90
ke jenjang perguruan tinggi tingkat dan 3 lainnya sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Ia juga terlibat langsung dalam memasarkan hasil produksinya. Informan RM juga memasarkan hasil produksinya setiap kali panen di tempat yang sama dengan informan IM.
Informan “AS”(Laki-laki) Informan “AS” yang berusia sekitar 42 tahun lahir dan besar di Desa Kasiwiang tepatnya di Dusun Teten tanah, beragama islam, dan dia juga sudah melakukan pekerjaan bertani sejak umur 8 tahun. Pendidikan terakhir informan AS hanya sampai pada sekolah menengah pertama (SMP), dia merupakan ahli waris dari ayahnya yang sudah meninggal, dia diwariskan sebidang tanah berupa sawah yang dimana sekarang dia yang mengelolanya sendiri. Informan AS juga yang memasarkan langsung hasil produksinya dimana hasil produksinya dipasarkan setiap kali panen di daerah Kecamatan Suli ataupun di Kota Belopa. Informan AS merupakan kepala keluarga dari 1 istri dan 2 orang anak.
91
Informan “NW”(Laki-laki) Informan NW berusia 33 tahun, beragama Islam dan ia merupakan informan termuda dalam bertani yang berdomisili di Dusun Teten tanah. Informan ini menekuni usaha sebagai petani sawah baru 5 tahun. Pendidikan terakhir informan NW adalah sekolah menengah atas (SMA), dia berstatus sebagai kepala keluarga dengan 1 istri dan 3 orang anak. Karena sawah yang informan NW kelolah bukan lahan sendiri, maka dia biasanya juga mencari
pekerjaan
sampingan
untuk
memenuhi
kebutuhan
keluarganya seperti berkebun atau mengojek gabah.
B. Faktor penyebab terjadinya kemiskinan pada petani sawah
Secara umum kebutuhan konsumsi rumah tangga berupa kebutuhan pangan dan non pangan, dimana kebutuhan keduanya berbeda. Pada kondisi pendapatan yang terbatas lebih dahulu mementingkan kebutuhan konsumsi pangan, sehingga dapat dilihat pada kelompok masyarakat dengan pendapatan rendah sebagian besar pendapatan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Namun demikian seiring pergeseran peningkatan pendapatan, proporsi pola pengeluaran untuk pangan akan menurun dan meningkatnya pengeluaran untuk kebutuhan nonpangan, salah satu indikator tingkat kesejahteraan petani padi sawah adalah luas 92
lahan yang diusahakan petani, apabila luas lahan yang dimiliki oleh petani lebih kecil dari luas lahan standar maka petani masih belum bisa memenuhi kebutuhannya. Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya kemiskinan pada petani sawah di Desa Kasiwiang maka perlu dijelaskan kondisi petani sawah. Sehubungan dengan hal tersebut, maka penelitian ini dijelaskan beberapa segi penghasilan sebagai petani sawah. Adapun faktor penyebab terjadinya kemiskinan pada petani sawah yaitu :
1. Penghasilan yang Rendah Penghasilan
petani
sawah
demi
kesejahteraan
keluarganya serta untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan, ialah pendapatan yang dihasilkan petani sawah dalam setiap kali panen di Desa Kasiwiang merupakan indikator penyebab adanya kemiskinan pada petani sawah. Penghasilan informan yang dikategorikan sangat rendah (SR) ialah yang menghasilkan gabah kurang dari 2 ton/Ha setiap panen, dan yang dikategorikan rendah (R) ialah yang menghasilkan 2 sampai